OJK: Aset Perbankan Syariah Tumbuh Dua Digit Tembus Rp1.061 Triliun
Ilustrasi.(Antara)

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) menyatakan industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan performa yang solid, resilien, dan berkelanjutan. Pertumbuhan positif ini didorong oleh peningkatan fungsi intermediasi serta tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah di Tanah Air.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa hingga Maret 2026, industri perbankan syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan aset dua digit sebesar 10,49% secara year-on-year (yoy). Nilai total aset tersebut kini mencapai Rp1.061,61 triliun.

“Momentum pertumbuhan tersebut menjadi milestone penting dari upaya transformasi dan penguatan industri perbankan syariah nasional yang mengacu pada Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023-2027,” ujar Dian dalam keterangan resminya, Sabtu (16/5).

Intermediasi dan Kualitas Pembiayaan

Sejalan dengan kenaikan aset, penyaluran pembiayaan perbankan syariah juga tumbuh signifikan sebesar 9,82% yoy menjadi Rp716,40 triliun. Angka pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan perbankan nasional. Capaian tersebut ditopang oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang melonjak 11,14% yoy menjadi Rp811,76 triliun.

Dari sisi rasio likuiditas, Financing to Deposit Ratio (FDR) menunjukkan tren peningkatan hingga mencapai 87,65%. Hal ini menandakan kontribusi perbankan syariah terhadap sektor riil semakin kuat.

Meski ekspansi pembiayaan terus berjalan, OJK memastikan kualitas aset tetap terjaga. Hal ini tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) yang berada di level aman, yakni NPF Gross sebesar 2,28% dan NPF Net sebesar 0,87%.

Kinerja Perbankan Syariah (Maret 2026):

  • Total Aset: Rp1.061,61 Triliun (+10,49% yoy)
  • Pembiayaan: Rp716,40 Triliun (+9,82% yoy)
  • DPK: Rp811,76 Triliun (+11,14% yoy)
  • NPF Net: 0,87%

Penguatan Struktur dan Konsolidasi

Dian menambahkan, implementasi RP3SI 2023-2027 memberikan dampak nyata dalam memperkuat daya saing industri. Saat ini, sudah terdapat tiga bank syariah berskala besar yang masuk dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 dan 3.

OJK juga memproyeksikan penguatan struktur akan terus berlanjut pada tahun ini. “Pada tahun ini juga diharapkan terbentuk satu Bank Umum Syariah (BUS) baru hasil proses spin-off yang akan memperkuat struktur industri pada kelompok KBMI 2,” jelasnya.

Selain pada bank umum, konsolidasi juga menyasar sektor Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS). Saat ini tengah berlangsung proses penggabungan (merger) terhadap 21 BPR/BPRS yang ditargetkan menghasilkan 9 BPRS baru yang lebih kuat, efisien, dan kompetitif.

Langkah-langkah strategis ini merupakan perwujudan pilar pertama RP3SI, yaitu Penguatan Struktur dan Ketahanan Industri Perbankan Syariah, guna memastikan industri ini mampu menghadapi tantangan ekonomi global di masa depan. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *