Pentagon Mengaku Iran Tetap Jadi Ancaman di Selat Hormuz
Ilustrasi.(Magnific)

PEJABAT tinggi Pentagon mengakui pada Kamis (14/5) waktu setempat bahwa Iran tetap menjadi ancaman serius di Selat Hormuz. Pengakuan ini muncul meskipun pemerintahan Trump bersikeras bahwa kemampuan militer Teheran telah hancur total akibat serangan Amerika Serikat.

Laksamana Brad Cooper, yang memimpin operasi di kawasan tersebut, mengatakan kepada para anggota legislatif bahwa ancaman Iran terus menakuti kapal-kapal komersial. Hal ini terjadi meskipun militer AS mendominasi kawasan tersebut secara teknis. Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Gedung Putih, karena Teheran menggunakan kendali atas selat tersebut sebagai daya tawar dalam negosiasi perdamaian.

Kekuatan Militer Iran yang Terdegradasi

Dalam kesaksian publik pertamanya sejak dimulainya perang, Cooper menyatakan bahwa serangan militer Amerika mendegradasi secara signifikan kemampuan militer Iran. Ia membantah laporan bahwa Iran masih menyimpan 70 persen peluncur rudal bergerak mereka.

  • Pemulihan Rudal: Cooper memprediksi butuh waktu bertahun-tahun bagi Iran untuk memulihkan stok rudal mereka.
  • Kekuatan Angkatan Laut: Restorasi kekuatan laut Iran diperkirakan tidak akan pulih dalam satu generasi.
  • Ancaman Regional: Meski melemah, Iran tetap dianggap memiliki kemampuan untuk meluncurkan serangan drone ke infrastruktur minyak negara-negara Teluk.
Dampak Ekonomi Perang Epic Fury:

Konflik yang dijuluki pejabat administrasi sebagai Epic Fury itu menelan biaya yang sangat besar. Pentagon menginformasikan bahwa biaya perang telah membengkak menjadi US$29 miliar (sekitar Rp464 triliun), naik dari US$25 miliar pada bulan lalu.

Ketidakpastian Penarikan Pasukan

Meskipun Presiden Donald Trump menyatakan perang dengan Iran berakhir dalam suratnya kepada Kongres pada 1 Mei menyusul gencatan senjata, ia menolak untuk menarik pasukan dari Timur Tengah. Trump bahkan mengisyaratkan melalui media sosial bahwa serangan bisa dimulai kembali jika pembicaraan damai tidak menunjukkan kemajuan.

Laksamana Daryl Caudle, Kepala Operasi Angkatan Laut, memperingatkan bahwa tanpa pendanaan tambahan, militer mungkin harus memangkas pelatihan dan rekrutmen pada musim panas ini. Anggaran yang ada saat ini tidak memperhitungkan biaya perang Iran yang dimulai pada Februari lalu.

Selat Hormuz: Jalur Vital Dunia

Sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Senator Elissa Slotkin menekankan bahwa meskipun kekuatan Iran berkurang, kemampuan mereka untuk memengaruhi harga minyak dunia tetap nyata. “Jika militer AS tidak secara fisik membuka selat itu sekarang, itu karena Iran memiliki kemampuan nyata untuk mengirim serangan drone yang mengirim harga minyak dunia lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Hingga saat ini, Pentagon belum memberikan lini masa pasti kapan pasukan Amerika akan mulai ditarik dari kawasan tersebut. Publik Amerika semakin frustrasi dengan lonjakan harga bahan bakar di dalam negeri. (Politico/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *