Mengapa Serangan Jantung di Malam Hari Jauh Lebih Mematikan?
Ilustrasi(Magnific)

SELAMA bertahun-tahun, ada asumsi sederhana mengapa seseorang lebih sering meninggal akibat serangan jantung di malam hari dibandingkan siang hari, ambulans datang lebih lambat dan lebih sedikit orang yang terjaga untuk menolong. Namun, sebuah analisis besar terhadap lebih dari 874.000 warga Amerika Serikat mengungkap bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks.

Penelitian yang dipimpin Joshua M. Kimbrell dari Albert Einstein College of Medicine, New York, melacak data henti jantung di luar rumah sakit selama satu dekade (2013-2024). Hasilnya menunjukkan adanya “penalti waktu malam” yang konsisten dan mematikan.

Kesenjangan Peluang Selamat

Data menunjukkan peluang bertahan hidup dengan fungsi otak yang baik merosot tajam dari 9,3% pada siang hari menjadi hanya 6,7% pada malam hari (pukul 23.00 hingga 07.00). Kesenjangan paling dalam terjadi pada rentang waktu kritis antara jam 1 pagi hingga 6 pagi.

Bahkan setelah memperhitungkan faktor usia, ras, jenis kelamin, dan lokasi kejadian, pasien yang mengalami serangan jantung di malam hari memiliki peluang 15% lebih rendah untuk keluar dari rumah sakit dalam kondisi sehat.

Bukan Sekadar Masalah Ambulans

Meskipun benar ambulans datang lebih lambat di malam hari, peneliti menemukan fakta mengejutkan. Keterlambatan ambulans tersebut hanya menyumbang 12,6% dari total kesenjangan peluang keselamatan. Artinya, ada faktor lain sebesar 87% yang belum terjelaskan sepenuhnya.

Bahkan dalam kasus di mana petugas medis menyaksikan langsung kejadian henti jantung tersebut, pasien malam hari tetap memiliki peluang hasil medis yang baik 6% lebih rendah.

Fasilitas Rumah Sakit dan CPR di Rumah

Tim peneliti menduga bahwa perbedaan kualitas perawatan di rumah sakit saat jam-jam sepi menjadi salah satu penyebabnya. Pasien yang tiba di malam hari memiliki peluang 7 persen lebih rendah untuk pulang dengan fungsi otak yang baik, meskipun jantung mereka sudah berhasil berdenyut kembali saat tiba di sana.

Selain itu, sekitar 88,8% kejadian di malam hari terjadi di rumah, di mana alat kejut jantung otomatis (AED) jarang tersedia. Angka pemberian napas buatan atau CPR oleh orang sekitar juga menurun dari 35,7% pada siang hari menjadi 33,1% di malam hari.

Kesenjangan yang Menetap

Studi yang diterbitkan dalam JAMA Network Open ini mencatat bahwa kesenjangan keselamatan siang-malam ini belum menyempit sejak tahun 2013, meskipun tingkat kelangsungan hidup secara keseluruhan telah meningkat. Data juga menunjukkan ketimpangan rasial, di mana pasien kulit hitam lebih banyak terwakili dalam kelompok henti jantung malam hari.

“Kini pertanyaannya beralih ke aspek lain yang tidak tertangkap jelas oleh data registrasi: seberapa cepat anggota keluarga yang setengah mengantuk mengenali krisis, kualitas kompresi dada di kamar yang gelap, serta apa yang bisa diberikan rumah sakit di jam-jam dini hari,” tulis laporan tersebut.

Memahami faktor-faktor di luar waktu tempuh ambulans ini menjadi sangat krusial. Mengingat puluhan ribu henti jantung terjadi setiap malam, peningkatan kecil pada persentase kelangsungan hidup dapat menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahunnya. (Earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *