Ancaman Mikroplastik Kian Serius, Cemari Laut hingga Rantai Makanan Manusia
Ilustrasi(Dok Pemprov Jabar)

ANCAMAN mikroplastik di lingkungan laut dinilai semakin serius dan sulit dikendalikan. Partikel plastik berukuran kecil itu kini tidak hanya ditemukan di laut, tetapi juga telah menyebar ke berbagai kompartemen lingkungan hingga masuk ke rantai makanan manusia.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova mengatakan mikroplastik saat ini telah menjadi pencemar yang tersebar luas di daratan, laut, hingga udara.

“Mikroplastik bukan lagi sekadar sampah plastik berukuran kecil, melainkan pencemar yang telah menyebar ke daratan, laut, udara, hingga masuk ke rantai makanan manusia,” ujar Reza, Senin (11/5). 

Reza menjelaskan produksi plastik global terus meningkat setiap tahun. Pada 2022, produksi plastik dunia mencapai sekitar 460 juta ton. Namun, sebagian besar limbah plastik belum dikelola secara optimal sehingga banyak berakhir di lingkungan perairan.

Menurutnya, plastik di lingkungan tidak benar-benar hilang atau terurai sempurna, melainkan hanya terfragmentasi menjadi partikel yang lebih kecil berupa mikroplastik hingga nanoplastik. Kondisi tersebut membuat pencemaran semakin sulit dikendalikan karena partikel kecil mudah menyebar.

Ia menjelaskan, mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang terbagi menjadi dua jenis, yakni mikroplastik primer dan sekunder. 

Mikroplastik primer diproduksi dalam ukuran kecil sejak awal, seperti pelet plastik dan bahan tertentu pada produk kosmetik. Sementara mikroplastik sekunder berasal dari pecahan plastik berukuran lebih besar akibat paparan sinar matahari, gelombang laut, dan proses degradasi lainnya.

Reza menyebut sumber mikroplastik berasal dari berbagai aktivitas manusia, seperti limbah perkotaan, tempat pembuangan akhir, industri tekstil, aktivitas mencuci pakaian sintetis, hingga kegiatan perikanan. Partikel tersebut kemudian terbawa melalui sungai, saluran air limbah, bahkan atmosfer sebelum akhirnya masuk ke laut.

“Laut sebenarnya bukan sumber pencemaran plastik, melainkan tempat akumulasi akhir dari sistem pengelolaan sampah yang belum optimal,” katanya.

Berdasarkan hasil kajian tim peneliti, mikroplastik telah ditemukan hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia, mulai dari sungai, waduk, danau, estuari, hingga laut lepas. Penelitian juga menunjukkan seluruh sampel air dan sedimen yang diteliti mengandung mikroplastik.

Meski demikian, distribusi penelitian di Indonesia masih belum merata. Sebagian besar studi masih terfokus di Pulau Jawa dan Bali, sementara wilayah timur Indonesia masih minim data penelitian.

Reza juga menyoroti pengaruh proses oseanografi terhadap distribusi mikroplastik di laut. Arus laut, musim, suhu, salinitas, serta pola sirkulasi perairan disebut memengaruhi pergerakan dan penumpukan mikroplastik.

Di Indonesia, perubahan musim barat dan musim timur menyebabkan perpindahan lokasi akumulasi mikroplastik secara berkala. Sementara wilayah perairan tertutup seperti teluk dan estuari cenderung menjadi hotspot penumpukan mikroplastik karena sirkulasi air lebih lambat.

Selain ditemukan di permukaan laut, mikroplastik juga ditemukan hingga laut dalam. Reza menjelaskan partikel mikroplastik dapat mengendap dan terbawa ke dasar laut melalui agregasi dengan partikel organik maupun proses biologis lainnya sehingga laut dalam menjadi tempat akumulasi jangka panjang yang sulit dipulihkan.

Dampak mikroplastik terhadap organisme laut juga dinilai kompleks. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh organisme melalui makanan maupun proses penyaringan air dan menyebabkan gangguan fisik seperti penyumbatan saluran pencernaan hingga rasa kenyang palsu.

Selain itu, mikroplastik juga dapat membawa zat berbahaya seperti logam berat, bahan kimia toksik, dan mikroorganisme patogen yang kemudian terlepas di dalam tubuh organisme dan memicu gangguan biologis.

Reza menekankan penanganan mikroplastik perlu dilakukan secara sistematis dan terintegrasi melalui pengurangan penggunaan plastik, pengelolaan sampah yang lebih baik, penguatan penelitian, serta kolaborasi lintas sektor.

“Laut yang bersih bukan hanya penting bagi kehidupan saat ini, tetapi juga merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang,” ujarnya. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *