
HARGA minyak mentah dunia melonjak signifikan pada perdagangan Asia, Senin (11/5/), dipicu oleh penolakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap syarat perdamaian yang diajukan Iran. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi global melalui Selat Hormuz di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.
Penolakan tersebut disampaikan Trump menjelang kunjungan kenegaraannya ke Tiongkok. Melalui pernyataan resmi, Trump menegaskan ketidaksetujuannya terhadap respons Teheran atas proposal perdamaian terbaru.
“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya, benar-benar tidak dapat diterima!,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari AFP.
Merespons sikap keras Washington, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur di bawah tekanan. Melalui akun media sosial X pada Minggu (10/5), ia menyatakan bahwa dialog bukan berarti menyerah.
“Kami tidak akan pernah tunduk kepada musuh, dan jika ada pembicaraan mengenai dialog atau negosiasi, itu tidak berarti menyerah atau mundur,” tegas Pezeshkian.
Analis MUFG, Lloyd Chan, menilai sikap cepat Trump menunjukkan jurang perbedaan yang masih lebar antara kedua negara. Menurutnya, pasar kini kembali dibayangi premi risiko geopolitik yang tinggi.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak Brent North Sea Crude melonjak 4,75% ke level 99,95 dolar AS atau sekitar Rp1,74 juta per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 4,16% menjadi 105,50 dolar AS atau sekitar Rp1,83 juta per barel.
Kenaikan harga energi ini terjadi di tengah pergerakan bursa saham Asia yang bervariasi. Indeks Nikkei 225 Tokyo melemah 0,36 persen dan Hang Seng Hong Kong turun 0,34%. Sebaliknya, indeks Kospi di Seoul melonjak 4 persen berkat penguatan sektor teknologi.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan melakukan kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan untuk membahas keamanan ekonomi dan intervensi pasar sebelum mendampingi Trump bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping pada akhir pekan ini. (Z-10)
