Harga Gandum dan Jagung Dunia Anjlok Imbas Sinyal Damai AS-Iran
Ilustrasi.(Magnific)

HARGA kontrak berjangka biji-bijian dan minyak nabati di bursa Chicago mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu (6/5) waktu setempat. Pelemahan ini dipicu oleh munculnya optimisme pasar terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah yang selama ini mengganggu rantai pasok pangan global.

Menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut kepada Bloomberg, laporan mengenai nota kesepahaman (MoU) satu halaman dari Washington yang sedang dievaluasi oleh Teheran menjadi katalis utama. Jika disepakati, kesepakatan tersebut akan membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap dan mencabut blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran. Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi distribusi pupuk dan bahan bakar, dua hal utama dalam produksi tanaman pangan.

Gandum dan Jagung Pimpin Penurunan

Harga gandum mencatat penurunan terdalam hingga 3,4%, menyentuh level terendah dalam dua minggu terakhir. Sementara itu, harga jagung tergelincir hingga 2,6%, diikuti oleh kedelai yang juga bergerak di zona merah.

Analis pasar dari CRM AgriCommodities, Mike Verdin, menjelaskan bahwa sektor biji-bijian saat ini menjadikan harga minyak mentah sebagai indikator utama. “Kejatuhan harga minyak yang dipicu laporan kesepakatan Washington-Iran memberikan tekanan besar pada harga biji-bijian,” ujarnya.

Berikut rincian pergerakan harga komoditas di Chicago:








Komoditas Perubahan (%) Harga Terakhir
Gandum -3,2% US$6,0775 per bushel
Jagung -2,2% –
Kedelai -0,9% –
Minyak Kedelai -3,0% 74,63 sen per pon

Tekanan dari Aksi Jual Manajer Investasi

Selain faktor geopolitik, tekanan pada harga gandum juga datang dari aspek teknis pasar. Para manajer investasi atau money managers dilaporkan mulai melakukan aksi jual setelah memegang posisi net-bullish pada akhir April. Verdin mencatat ada ruang yang signifikan untuk aksi jual lebih lanjut mengingat secara historis pengelola dana lebih nyaman dengan posisi net-short.

Di sisi lain, harga minyak kedelai yang merupakan bahan baku utama biofuel juga merosot 3,4% dari level tertingginya dalam tiga setengah tahun. Penurunan ini mengikuti anjloknya harga minyak mentah dunia seiring meredanya kekhawatiran akan gangguan energi akibat perang.

Catatan Redaksi: Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar. Meskipun Presiden Donald Trump mengisyaratkan ada kemajuan besar menuju kesepakatan final, ia juga tetap memberikan peringatan keras kepada Iran untuk menyetujui persyaratan yang diajukan guna menghindari eskalasi militer lebih lanjut.

Aksi ambil untung (profit-taking) dan penyesuaian posisi oleh para spekulan diperkirakan masih akan membayangi pergerakan harga komoditas pangan dalam beberapa hari ke depan, sembari menunggu kepastian hitam di atas putih terkait perdamaian di Timur Tengah. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *