
PENTAGON mengungkapkan bahwa delapan minggu pertama perang dengan Iran menelan biaya sekitar US$25 miliar atau sekitar Rp433 triliun. Angka ini setara dengan gabungan anggaran tahunan Penjaga Pantai (Coast Guard), Layanan Taman Nasional, dan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat.
Estimasi biaya tersebut disampaikan oleh pelaksana tugas pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst III, dalam dengar pendapat di Kongres pada 29 April 2026. Menurut Hurst, sebagian besar dana tersebut digunakan untuk amunisi yang habis terpakai, operasi, pemeliharaan, serta penggantian peralatan militer.
Perbandingan Biaya: Seberapa Besar US$25 Miliar?
Untuk memberikan gambaran mengenai besarnya biaya perang selama dua bulan tersebut, berikut perbandingannya dengan anggaran sektor publik lainnya di Amerika Serikat:
- Dua kali lipat anggaran tahunan Penjaga Pantai AS (US$13,8 miliar).
- Hampir tiga kali lipat anggaran EPA tahun 2026 (US$8,8 miliar).
- Delapan kali lipat alokasi dana untuk Layanan Taman Nasional (US$3,3 miliar).
- Setara dengan anggaran tahunan NASA (US$24,8 miliar).
- Lima kali lipat dari proyeksi biaya pembangunan kembali Jembatan Francis Scott Key di Baltimore yang runtuh.
Catatan Amunisi: Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa penggunaan amunisi hanya dalam enam hari pertama perang saja sudah menelan biaya US$11,3 miliar.
Kritik terhadap Estimasi Pentagon
Meskipun Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa angka US$25 miliar mencerminkan total biaya yang terlihat, banyak pihak menilai angka tersebut terlalu rendah. Para ahli militer dan anggota Kongres meragukan validitas data tersebut karena beberapa alasan:
- Kerusakan Aset: Estimasi tersebut diduga belum mencakup biaya kerusakan pangkalan militer dan aset AS akibat serangan balasan Iran, yang diperkirakan mencapai US$15 miliar.
- Lonjakan Harga Bahan Bakar: Kontrol Iran atas Selat Hormuz memicu kenaikan harga bahan bakar yang berdampak langsung pada biaya operasional militer.
- Laporan Independen: Analis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Mark Cancian, memperkirakan biaya sebenarnya berada di kisaran US$32 miliar hingga US$35 miliar (sekitar Rp606 triliun). Bahkan, laporan CNN menyebut total biaya bisa mencapai US$50 miliar (sekitar Rp865 triliun).
Potensi Anggaran Tambahan
Di tengah perdebatan angka tersebut, Pentagon mengisyaratkan akan mengajukan pendanaan tambahan di luar permintaan anggaran rekor US$1,5 triliun untuk tahun depan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa permintaan tambahan (supplemental request) tersebut bisa melonjak hingga US$100 miliar.
Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 melalui Operation Epic Fury itu meninggalkan jejak kehancuran yang mendalam. Meskipun gencatan senjata sempat dimulai pada 7-8 April 2026, beban finansial dan geopolitik dari konflik ini diprediksi akan terus membayangi ekonomi Amerika Serikat dalam jangka panjang. (USA Today/I-2)
| Kategori Pengeluaran | Estimasi Biaya (8 Minggu) |
|---|---|
| Versi Resmi Pentagon | US$25 Miliar |
| Estimasi Ahli (CSIS) | US$32 Miliar – US$35 Miliar |
| Estimasi Termasuk Kerusakan Aset | Hingga US$50 Miliar |
