Rekonsiliasi Bersejarah: PM Xanana Gusmao Bertemu Mahidin Simbolon Setelah 34 Tahun
ilustrasi(Istimewa)

Sebuah momen bersejarah yang sarat akan nilai kemanusiaan dan rekonsiliasi terjadi di jantung ibu kota. Mayor Jenderal Purnawirawan TNI, Mahidin Simbolon, bertemu dan bersilaturahmi dengan Perdana Menteri (PM) Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmao, di Hotel Kempinski, Jakarta, Sabtu (2/5).

Pertemuan ini menjadi sangat emosional karena merupakan perjumpaan pertama mereka setelah 34 tahun. Keduanya terakhir kali berhadapan dalam situasi konflik pada tahun 1992, saat Mahidin Simbolon memimpin operasi penangkapan Xanana Gusmão di Lahane, Timor Leste.

Jejak Sejarah: Dari Penangkapan ke Persahabatan

Dalam catatan sejarah, hubungan antara Mahidin Simbolon dan Xanana Gusmao bermula dari sisi yang berseberangan. Mahidin, yang kala itu berpangkat Letnan Kolonel dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus), terlibat langsung dalam operasi militer yang berhasil mengamankan Xanana, pemimpin perlawanan Timor-Leste saat itu.

“Akhirnya bisa bertemu lagi. Beliau juga sudah tua. Dulu beliau berpangkat Letnan Kolonel,” kenang PM Xanana Gusmao saat menceritakan kembali peristiwa di tahun 1992 tersebut.

Xanana menceritakan detail saat dirinya ditangkap di rumah Mana Aliança Araújo. “Saat itu, Letnan Kolonel tersebut bersama sejumlah pasukan Kopassus datang dan menangkap saya. Karena saya tidak berpakaian, mereka memakaikan baju kepada saya. Beliau memantau kondisi saya selama beberapa hari sebelum membawa saya ke Bali dan Jakarta untuk interogasi. Kami sebenarnya sudah saling kenal sejak hari penangkapan itu,” tuturnya.

Diplomasi di Balik Layar

Pertemuan ini tidak terjadi secara kebetulan. Inisiatif datang dari Mahidin Simbolon yang menyampaikan keinginannya untuk bertemu melalui perantara Duta Besar Timor-Leste untuk Indonesia, Roberto Soares, serta Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Laurentius Amrih Jinangkung.

Momen ini dimanfaatkan saat Xanana sedang transit di Jakarta setelah menghadiri negosiasi resmi mengenai Delimitasi Batas Maritim di Singapura. “Mahidin Simbolon mendengar saya transit di Jakarta, maka ia meminta izin untuk menemui saya. Melalui komunikasi para diplomat inilah pertemuan ini akhirnya terlaksana,” jelas Xanana dengan nada gembira.

Semangat Rekonsiliasi: Dalam pertemuan tersebut, keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa Tetun dan mengenang berbagai tempat di Timor-Leste. Meski memiliki masa lalu yang penuh konflik, keduanya sepakat untuk membiarkan masa lalu menjadi sejarah demi masa depan yang lebih damai.

Politik Pengampunan Xanana Gusmão

Sejak Timor-Leste meraih kemerdekaannya, Xanana Gusmão secara konsisten menjalankan politik rekonsiliasi. Ia aktif menjalin hubungan diplomatik dengan mantan tokoh-tokoh militer Indonesia yang dulu menjadi lawannya di medan perang, termasuk Wiranto dan Prabowo Subianto.

“Semua ini dijalani dengan semangat persahabatan. Hari ini, jika kita mengingat kembali kenangan masa lalu, rasanya seperti saling memaafkan sehingga membuat hati menjadi tenang. Itulah makna pertemuan kita hari ini,” tambah Xanana.

Dalam pertemuan hangat tersebut, PM Xanana didampingi oleh jajaran pejabat tinggi Timor-Leste, di antaranya Wakil Perdana Menteri Francisco Kalbuadi Lay, Duta Besar Roberto Soares, serta Atase Pertahanan Kolonel Renilde Guterres Cortereal e Silva. Pertemuan ini kembali menegaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan Timor-Leste kini telah bertransformasi dari konflik menjadi kemitraan strategis yang berlandaskan persaudaraan. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *