
IRAN mengatakan, Minggu (4/5), telah menerima tanggapan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas proposal terbaru untuk pembicaraan damai, sehari setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ia kemungkinan akan menolak proposal Iran karena “mereka belum membayar harga yang cukup mahal.”
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Washington telah menyampaikan tanggapannya terhadap proposal 14 poin Iran melalui Pakistan, dan bahwa Teheran kini sedang meninjaunya. Tidak ada konfirmasi langsung dari Washington atau Islamabad mengenai tanggapan AS tersebut.
“Pada tahap ini, kami tidak melakukan negosiasi nuklir,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, seperti dikutip media pemerintah, yang tampaknya merujuk pada usulan Iran untuk menunda pembicaraan mengenai isu nuklir hingga perang berakhir dan pihak-pihak yang bertikai sepakat untuk mencabut blokade masing-masing terhadap pelayaran di Teluk.
Dilansir dari CNBC, Senin (4/5), pada Sabtu (2/5), Trump mengatakan ia belum meninjau redaksi tepat dari usulan perdamaian Iran tersebut, namun kemungkinan besar akan menolaknya.
“Saya akan segera meninjau rencana yang baru saja dikirimkan Iran kepada kami, namun tidak dapat membayangkan bahwa usulan itu akan dapat diterima, mengingat mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir,” tulisnya di media sosial.
Amerika Serikat dan Israel menghentikan serangan udara mereka terhadap Iran empat minggu lalu, dan pejabat AS serta Iran telah menggelar satu putaran pembicaraan. Namun, upaya untuk menjadwalkan pertemuan lanjutan sejauh ini belum membuahkan hasil.
Iran menyerahkan proposal terbarunya pada Kamis, dan seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi pada Sabtu bahwa Teheran berencana untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan krisis pelayaran terlebih dahulu, sementara pembicaraan mengenai program nuklir Iran ditunda untuk nanti.
Meskipun Trump awalnya mengatakan bahwa ia tidak puas dengan proposal Iran, ia mengatakan pada hari Sabtu (2/5) bahwa ia masih meninjaunya.
Usulan untuk menunda pembicaraan mengenai isu-isu nuklir hingga tahap perundingan AS-Iran selanjutnya tampaknya bertentangan dengan tuntutan berulang Washington agar Iran menerima pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran sebelum perang dapat diakhiri.
AS ingin Iran menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi sebanyak lebih dari 400 kg (900 pon), yang menurut Amerika Serikat dapat digunakan untuk membuat bom. Iran menyatakan program nuklirnya bersifat damai, meskipun bersedia membahas beberapa pembatasan sebagai imbalan atas pencabutan sanksi, sebagaimana telah disetujui dalam kesepakatan 2015 yang ditinggalkan Donald Trump.
Meskipun berulang kali menyatakan tidak terburu-buru, Donald Trump menghadapi tekanan domestik untuk memecahkan cengkeraman Iran atas Selat Hormuz, yang telah menghambat 20% pasokan minyak dan gas dunia serta mendorong kenaikan harga bensin di AS. Partai Republik Trump menghadapi risiko reaksi balik pemilih akibat kenaikan harga dalam pemilihan kongres tengah periode pada November. (H-4)
