Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dukung Aptisi Leadership Rektor Akademi untuk Kemajuan PTS
Ilustrasi(Dok Istimewa)

MENTERI Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto memberikan apresiasi terhadap inisiatif Aptisi Easy Regulatory Learning Assessment (AERLA) Program yang digagas oleh pimpinan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) ini dirancang khusus bagi para rektor di lingkungan perguruan tinggi swasta (PTS) untuk memperkuat tata kelola dan kolaborasi antarlembaga.

Brian Yuliarto menjelaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting bagi kementerian untuk menyosialisasikan berbagai program strategis dari Diktisaintek secara langsung kepada para pimpinan perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini akan dilakukan secara berkelanjutan.

“Ini adalah batch pertama, dan nantinya akan ada batch-batch berikutnya. Kami berharap program ini bisa menjangkau berbagai wilayah sehingga terjadi proses berbagi pengetahuan (sharing knowledge) antar-rektor PTS,” ujar Brian.

Kolaborasi dan Referensi Keberhasilan

Fokus utama dari akademi kepemimpinan ini adalah menciptakan ruang bagi para rektor untuk saling bertukar pengalaman. Brian menekankan bahwa praktik-praktik baik (best practices) dan hasil positif yang telah dicapai oleh PTS yang sudah maju dapat dijadikan referensi bagi rektor PTS lainnya.

“Pengalaman baik dari PTS yang sudah berhasil bisa diikuti dan menjadi referensi. Kita berharap sinergi ini dapat mendorong kemajuan kolektif di sektor pendidikan tinggi swasta,” tambahnya.

Evaluasi Kebijakan dan Optimalisasi Layanan

Selain sebagai wadah pengembangan kapasitas, acara ini berfungsi sebagai kanal komunikasi dua arah antara pemerintah dan penyelenggara pendidikan swasta. Mendiktisaintek memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan masukan langsung mengenai kebijakan yang tengah berjalan.

Brian mengakui bahwa masukan dari para rektor sangat diperlukan untuk mengidentifikasi kekurangan dalam pelayanan kementerian terhadap PTS. “Kami ingin mendapatkan masukan mengenai kebijakan mana yang masih kurang, terutama dalam melayani teman-teman di perguruan tinggi swasta, sehingga pelayanan kami bisa dioptimalkan,” jelasnya.

Inisiatif ini terinspirasi dari ide Ketua Umum Aptisi yang kemudian disambut baik oleh kementerian. Brian mencatat bahwa program serupa sebelumnya telah berjalan untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dan kini fokus diperluas untuk memperkuat ekosistem perguruan tinggi swasta di Indonesia.

Perkuat Kepemimpinan Rektor PTS

Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, menegaskan bahwa program Aptisi Easy Regulatory Learning Assessment (AERLA) didesain khusus sebagai wadah berbagi praktik baik (best practices). Program ini menjadi ruang pertukaran pengalaman sekaligus formulasi solusi atas berbagai tantangan global yang dihadapi pendidikan tinggi saat ini.

Menurut Budi, pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) saat ini dituntut memiliki visi kepemimpinan yang adaptif, transformatif, dan berorientasi pada keberdampakan nyata. Melalui program yang telah berjalan selama enam bulan tersebut, para rektor mendapatkan berbagai wawasan baru terkait strategi kepemimpinan dan arah pendidikan menuju tahun 2035.

Meski baru diresmikan secara khusus tahun ini, Budi mengungkapkan bahwa inisiatif serupa sebenarnya telah dilakukan sejak 2014. Ia berharap kegiatan ini dapat berlangsung rutin setiap tahun dengan model pelatihan yang terus berkembang demi kemajuan PTS di masa depan.

“Harapannya adalah kami bisa men-drive 4.211 rektor di seluruh Indonesia. Nanti menyusul wakil rektor, dekan, ketua prodi, hingga ketua lembaga-lembaga. Kami akan terus melanjutkan di gelombang 1, gelombang 2, dan memberikan pelatihan secara kontinyu,” ujar Budi.

Dalam skema program ini, setiap rektor yang mengikuti pelatihan dan berhasil mendapatkan predikat unggul akan ditugaskan untuk memberikan pendampingan ke kampus-kampus lain di wilayahnya. APTISI juga memberikan prioritas pendampingan bagi perguruan tinggi swasta di wilayah Indonesia Timur dan Tengah yang dinilai memerlukan dorongan serta bantuan maksimal agar dapat berkembang lebih pesat.

Apresiasi dari Pimpinan Perguruan Tinggi

Senada dengan hal tersebut, Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) Medan, Muhammad Isa Indrawan, menyambut positif konsistensi APTISI dalam menggelar program ini. Ia menilai AERLA memberikan manfaat besar bagi para rektor, terutama dalam memperkaya perspektif mengenai tata kelola perguruan tinggi.

“Ada hampir 40 rektor yang membagikan pengalaman masing-masing dalam kegiatan ini, sehingga menjadi insight berharga bagi kami, khususnya di Medan. Kami juga mendapatkan informasi strategis mengenai globalisasi dari para pembicara,” tutur Isa.

Isa menambahkan, pemaparan mengenai posisi strategis Indonesia dari sisi ekonomi, pertahanan, hingga pendidikan menunjukkan pentingnya kesiapan sumber daya manusia. “Kita melihat Indonesia sangat strategis. Untuk itu, diperlukan satu platform atau roadmap pendidikan yang lebih kuat lagi ke depannya,” ujarnya.

Menurut Isa, pihaknya mengharapkan ada kemudahan platform dalam sistem akreditasi. “Misalnya waktunya serentak, jadi perguruan tinggi lebih mudah dalam persiapan,” kata dia. 

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *