
APARAT gabungan Mabes Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Bea Cukai mengungkap laboratorium tersembunyi produksi narkotika jenis sabu di Desa Ulee Tutue, Kemukiman Bereueh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh. Dari penggerebekan pada Rabu (21/10), petugas menyita 1,2 ton sabu dalam bentuk cair dan siap edar serta menangkap 12 orang terduga pelaku.
Dua dari 12 orang yang diamankan merupakan warga negara asing (WNA) asal Tiongkok. Aparat kini memburu anggota jaringan narkotika tersebut, termasuk yang berada di luar negeri.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto meninjau langsung lokasi laboratorium narkoba itu pada Jumat (23/10). Ia mengatakan, pengungkapan kasus tersebut merupakan hasil kerja sama aparat penegak hukum dan masyarakat.
Menurut Suyudi, pengungkapan laboratorium tersebut menjadi langkah penting untuk menyelamatkan masyarakat, terutama generasi muda, dari ancaman narkotika.
“1,2 ton sabu, kita bisa selamatkan cucu,” kata Suyudi saat meninjau lokasi.
Selain menyita 1,2 ton sabu, petugas mengamankan sejumlah peralatan yang diduga digunakan untuk memproduksi narkotika. Barang bukti tersebut antara lain tabung elpiji berukuran 12 kilogram, mesin cuci, kotak plastik, telepon seluler, dan sejumlah bahan kimia.
Laboratorium tersebut menempati dua unit rumah toko (ruko) satu lantai yang baru disewa sekitar dua bulan. Aktivitas produksi narkotika di dalam bangunan itu tidak diketahui masyarakat sekitar.
Warga hanya melihat aktivitas bengkel sepeda motor di bagian belakang bangunan yang kerap berlangsung pada malam hari.
“Memang itu di pinggir jalan raya Bereunuen, Kecamatan Mutiara, menuju pusat Pasar Kembang Tanjung, Kecamatan Kembang Tanjung,” tutur Zul, warga Mutiara.
Meski baru beroperasi sekitar dua bulan, laboratorium tersebut dilaporkan telah menghasilkan sabu dalam jumlah besar. Kapasitas produksinya diperkirakan mencapai 500 kilogram per hari.
Besarnya kapasitas produksi dan jumlah barang bukti yang ditemukan menunjukkan skala operasi laboratorium tersebut. Aparat masih mengembangkan penyelidikan untuk mengungkap seluruh jaringan yang terlibat, termasuk pihak yang diduga mengendalikan kegiatan produksi dan distribusi narkotika tersebut.
Kapolri menegaskan, pengejaran terhadap anggota jaringan masih berlangsung, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri, termasuk Tiongkok. (E-2)
