BI Pastikan Stabilitas Rupiah Terjaga di Tengah Sentimen MSCI
Bank Indonesia (BI) menyatakan pergerakan nilai tukar rupiah tetap terkendali.(Dok. Antara)

BANK Indonesia (BI) menyatakan pergerakan nilai tukar rupiah masih dapat dikelola dengan baik menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Meski sempat terjadi tekanan, bank sentral memastikan volatilitas yang terjadi masih dalam batas wajar dan dapat dimitigasi.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengungkapkan bahwa pergerakan nilai tukar tidak berlebihan meski sempat melemah di atas level Rp18.000 per dolar AS pascapengumuman tersebut. Berdasarkan data Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Jumat (16/10), rupiah berada di level Rp18.052 per dolar AS.

“Sejauh ini masih manageable. Kita masih bisa kelola dengan baik dan mudah-mudahan shock-nya secara perlahan mulai di-digest oleh pelaku pasar,” ujar Erwin di Jakarta, Jumat (23/10).

Sentimen ini dipicu oleh usulan MSCI pada 15 Oktober lalu untuk mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Hal tersebut sempat memicu koreksi signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 11,57 persen serta memicu arus modal keluar (outflow) pada instrumen SBN dan SRBI.

Menyikapi kondisi tersebut, BI memastikan likuiditas rupiah di pasar keuangan tetap memadai. Erwin menegaskan bahwa BI siap melakukan intervensi apabila tekanan outflow memicu volatilitas di luar batas toleransi, terutama jika terjadi ketidakseimbangan permintaan dan penawaran valas di pasar.

Sebagai langkah penguatan stabilitas, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada RDG Oktober 2026. Selain itu, BI meningkatkan insentif kebijakan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menarik aliran modal asing (inflow). Pengurangan premi DNDF kini ditetapkan menjadi 40% untuk tenor 6 bulan dan 45% untuk tenor 12 bulan.

Gubernur BI, Destry Damayanti, menambahkan bahwa bank sentral terus melakukan asesmen ketat terhadap risiko pasar saham domestik. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah saat ini masih tergolong normal mengingat kondisi ekonomi regional yang juga sedang menghadapi tantangan serupa. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *