
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca di wilayah Jawa Tengah pada umumnya akan berawan pada Kamis (22/10). Meski demikian, hujan ringan berpeluang turun di enam daerah, sementara kawasan pesisir utara (Pantura) masih dibayangi ancaman banjir rob akibat pasang air laut.
Prakirawan BMKG Stasiun Ahmad Yani Semarang, Arif N, menjelaskan bahwa pada pagi hingga siang hari, cuaca di Jawa Tengah didominasi kondisi berawan. Memasuki sore hingga awal malam, hujan ringan berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di kawasan pegunungan dan dataran tinggi bagian tengah.
Enam daerah yang diprediksi mengalami hujan ringan tersebut meliputi:
- Purwokerto
- Purbalingga
- Banjarnegara
- Wonosobo
- Mungkid
- Magelang
Sementara itu, daerah lain di Jawa Tengah diperkirakan tetap berawan sepanjang hari tanpa tanda-tanda turun hujan. Arif juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Tetap waspada terhadap kemudahan kebakaran hutan dan lahan, karena musim kemarau ini banyak tanaman kering dan mudah terbakar,” ujar Arif, Kamis (22/10).
Untuk wilayah Jawa Tengah bagian selatan, seperti Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Wonogiri, terdapat potensi angin kencang dengan kecepatan mencapai 35 kilometer per jam. Di wilayah lainnya, kecepatan angin rata-rata berkisar antara 10-30 kilometer per jam dengan suhu udara 16-35 derajat celsius dan kelembaban 40-95 persen.
Kondisi Perairan dan Ancaman Rob
Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Retna Swasti Karini, melaporkan bahwa kondisi gelombang di perairan utara maupun selatan Jawa Tengah mulai mereda. Tinggi gelombang di perairan selatan berkisar 1,25 – 2,5 meter, sedangkan di perairan utara berkisar 0,5 – 1,25 meter.
Meski gelombang menurun, Retna menekankan adanya ancaman banjir rob yang masih berlangsung di pesisir Pantura, mulai dari Brebes hingga Rembang. Air laut pasang diprediksi mencapai ketinggian maksimum 1 meter pada pukul 02.00 hingga 06.00 WIB.
Peringatan Dampak Rob: Banjir akibat pasang air laut ini berpotensi mengganggu aktivitas transportasi, proses bongkar muat di pelabuhan, serta berdampak pada sektor budidaya perikanan darat dan petani garam di kawasan pesisir.
Pihak BMKG tetap meminta para pelaku aktivitas pelayaran, termasuk kapal ikan dan tongkang, untuk tetap berhati-hati terhadap perubahan cuaca di perairan. (I-2)
