
SEKITAR 165 juta tahun yang lalu, ketika dinosaurus masih mendominasi daratan, seekor hewan berbulu dengan ekor mirip berang-berang berenang di danau dan sungai di wilayah yang kini dikenal sebagai Tiongkok utara. Meski belum sepenuhnya tergolong mamalia sejati, hewan ini ternyata sudah memiliki kemampuan menelan makanan persis seperti mamalia modern saat ini.
Spesies tersebut dinamai Megacauda sungei, yang dijelaskan dalam studi terbaru di jurnal Nature. Fosil kerabat mamalia purba yang ditemukan di Mongolia Dalam ini mengawetkan tulang-tulang kerongkongan berukuran kecil. Temuan tersebut menunjukkan bahwa fitur utama biologi mamalia telah terbentuk sejak Zaman Jurassic Tengah.
Memiliki panjang sekitar 50 sentimeter dari hidung hingga ekor dan bobot hingga 2 kilogram, Megacauda tergolong dalam docodont, kelompok kerabat awal mamalia yang telah punah. Sejauh ini, Megacauda merupakan mammaliaform (kerabat mamalia) terbesar dari era Jurassic yang pernah ditemukan.
Nama spesies ini merujuk pada ekornya yang lebar, pipih, dan ditutupi sisik kecil menyerupai ekor berang-berang. Panggul dan anggota tubuh bagian belakangnya mirip dengan platipus modern.
“Hewan ini berenang dengan menggunakan kaki depan dan belakangnya untuk mengayuh,” kata Thomas Martin, ahli paleontologi dari University of Bonn sekaligus salah satu penulis studi tersebut.
Sebagai predator semi-akuatik, Megacauda berburu mangsa licin seperti vertebrata kecil di air tawar. Gigi pipinya yang tajam dengan puncak melengkung ke belakang membantunya mencengkeram mangsa. Peneliti menemukan fragmen tulang di area lambungnya, sementara fosil salamander juga banyak ditemukan pada lapisan batuan yang sama.
“Ini adalah bukti paling awal dari gaya hidup akuatik pada mamalia,” tutur Martin.
Namun, hewan ini juga menghadapi ancaman di daratan. Zhe-Xi Luo dari University of Chicago, penulis senior studi tersebut, menyampaikan bahwa “Ancaman predator terhadap Megacauda kemungkinan besar berasal dari dinosaurus theropoda berbulu.”
Bagian paling krusial dari fosil ini terletak pada struktur kerongkongannya. Fosil mengawetkan rangkaian tulang hioid (hyoid bones), yang pada mamalia hidup berfungsi menambatkan otot-otot untuk menelan. Selain itu, ditemukan pula kait tulang kecil di langit-langit mulut yang menyokong langit-langit lunak (soft palate) serta otot yang digunakan untuk menyusu dan menelan.
Kombinasi fitur ini menunjukkan Megacauda dapat mengunyah makanan lalu menelannya, sebuah pola mekanisme yang unik bagi mamalia modern.
“Setelah mamalia mengunyah makanan mereka, baik tumbuhan maupun daging, mereka semua menelannya dengan cara efisien dan mudah yang sama,” ujar Luo, yang menggambarkan sistem menelan ini sebagai “sebuah inovasi evolusioner yang luar biasa penting.”
Keberadaan langit-langit lunak memisahkan rongga mulut dari saluran napas, sehingga hewan dapat menahan makanan di dalam mulut sembari tetap bernapas.
“Fosil ini menangkap tahap penting dalam evolusi mamalia,” tambah Luo. “Struktur yang terlibat dalam mengoordinasikan proses menelan dan menyusu sudah mulai berevolusi pada Jurassic Tengah.”
Kemampuan menyusu dan menelan efisien ini memiliki peran besar dalam garis keturunan mamalia. Luo menegaskan, “Kemampuan untuk menyusu ASI secara harfiah menentukan biologi kita.” Bahkan, Martin menghubungkan efisiensi menelan ini dengan perkembangan otak di kemudian hari, yang pada akhirnya memungkinkan munculnya manusia.
“Zaman Dinosaurus juga merupakan masa inovasi evolusioner yang luar biasa di antara mamalia awal,” pungkas Peishu Li dari Ohio University, yang juga menjadi penulis pendamping dalam penelitian ini. (Earth/Z-2)
