
DINAS Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menggencarkan edukasi kesehatan kepada masyarakat guna mengantisipasi lonjakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan pencernaan. Langkah ini dilakukan seiring memasuki masa peralihan musim atau pancaroba dari kemarau ke hujan.
Kepala Dinkes Kabupaten Bandung, Hanhan Siti Hasanah, menjelaskan bahwa upaya pencegahan difokuskan pada penguatan peran puskesmas serta penyebarluasan informasi untuk meningkatkan kewaspadaan warga. Pihaknya terus memantau perkembangan situasi kesehatan melalui berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di wilayah tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Hal ini mencakup kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, serta sanitasi guna mengurangi risiko penularan penyakit,” ujar Hanhan di Bandung, Jumat (16/10/2026).
Tips Mencegah ISPA dan Gangguan Pencernaan
Untuk menekan risiko ISPA, Hanhan menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan bergizi seimbang dan istirahat yang cukup. Bagi warga yang mulai merasakan gejala sakit, diwajibkan menerapkan etika batuk dan bersin serta menggunakan masker agar tidak menularkan virus kepada orang lain.
Selain ISPA, ancaman gangguan pencernaan juga menjadi perhatian. Masyarakat diminta memastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam kondisi bersih, matang, dan aman.
Hanhan juga mengingatkan warga untuk segera memeriksakan diri ke fasyankes jika mengalami gejala yang memburuk, seperti:
- Sesak napas
- Kesulitan minum
- Tanda-tanda dehidrasi
- Keluhan kesehatan yang berkepanjangan
Saat ini, Kabupaten Bandung didukung oleh 62 puskesmas dan delapan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang siap melayani masyarakat.
Tren Kasus dan Prediksi Cuaca
Berdasarkan data Dinkes, kasus ISPA di Kabupaten Bandung sempat mengalami peningkatan signifikan pada pertengahan hingga akhir September 2026. Hal ini terlihat dari tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Ratio (BOR) ruang rawat inap non-intensif di RSUD Majalaya yang mencapai 83,55 persen dan RSUD Oto Iskandar Di Nata sebesar 83,11 persen.
Meski saat ini jumlah kasus dilaporkan mulai menurun, Hanhan menegaskan bahwa pemantauan dan edukasi tetap menjadi prioritas. “Perubahan musim perlu disikapi dengan kewaspadaan, bukan kepanikan. Kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama yang dimulai dari perilaku hidup bersih,” tambahnya.
Di sisi lain, Stasiun Klimatologi Jawa Barat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Barat akan memasuki musim hujan pada November 2026. Masyarakat diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan kesehatan yang menyertai perubahan kondisi cuaca tersebut. (Ant/H-2)
