Staf Khusus Menag RI Tegaskan Komitmen Kemenag Jaga Kerukunan dengan Dampingi Korban Dugaan Pengeroyokan
Stafsus Kemenag RI Gugun Gumilar (ketiga dari kanan) mendampingi keluarga korban intimidasi, Amanda Andono (ketiga dari kiri) di Mapolda Metro Jaya, Jumat (16/10).(DOK KEMENAG RI)

STAF Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, kembali mendampingi Amanda Andono, korban dugaan pengeroyokan dan penganiayaan dalam acara Maulid Nabi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Pendampingan dilakukan dalam proses pemeriksaan yang berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (16/10).

Gugun menyampaikan bahwa penanganan perkara mencakup pelaporan, klarifikasi, serta pengumpulan bukti, termasuk rekaman video, untuk disampaikan kepada pihak kepolisian. Menurutnya, pendampingan tersebut sejalan dengan komitmen Kementerian Agama dalam memberikan pelayanan kepada umat dan menjaga kerukunan umat beragama.

“Kementerian Agama berkomitmen menjaga kerukunan umat beragama dan memastikan setiap warga negara mendapatkan pelayanan keagamaan secara adil dan setara. Setiap persoalan yang berpotensi mengganggu kerukunan harus ditangani dengan serius, mengedepankan dialog, serta tetap menghormati proses hukum yang berlaku,” tegas Gugun.

Ia menambahkan bahwa berbagai kasus intoleransi perlu mendapat perhatian serius dan ditangani satu per satu. Upaya menjaga kerukunan tidak cukup hanya melalui imbauan, tetapi juga harus diwujudkan melalui pelayanan yang adil, perlindungan terhadap hak-hak warga negara, serta langkah nyata dalam menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.

PETASAN

Sebelumnya, warga Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengeluhkan suara petasan dan kembang api dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan haul yang dinilai mengganggu anaknya yang berkebutuhan khusus. “Anak saya sampai bangun. Anak saya sampai sampai kaget dan kejang. Saya cuma mikirnya anak dan orang tua saya aja,” kata warga bernama Amanda Andono, 50, kepada wartawan di Jakarta, Senin (12/10).

Amanda mengatakan suara kembang api itu terdengar sangat keras dan berlangsung terus-menerus. Menurut dia, suara itu berbeda dari kembang api yang biasa digunakan dalam acara-acara kebanyakan. “Ini benar-benar dentuman. Tidak selesai-selesai,” ujar Amanda.

Dentuman itu, kata dia, berdampak pada anaknya yang memiliki kebutuhan khusus dan sensitif terhadap suara keras. Dia menyebutkan anaknya sempat terbangun, terkejut, dan mengalami kejang setelah mendengar suara tersebut. 

Selain anaknya, Amanda juga mengkhawatirkan kondisi ibunya yang berusia 76 tahun.Akibat dentuman yang tak kunjung berhenti, dia kemudian mendatangi lokasi acara tersebut untuk meminta penjelasan kepada pihak yang bertanggung jawab.

Dia pun mengaku kesulitan menemui penyelenggara acara. Terlebih, dia justru mengalami tindakan fisik saat meminta agar dipertemukan dengan panitia. Amanda mengaku sempat didorong dan ditarik oleh sejumlah orang. Ia juga mengaku wajahnya disembur air dan diminta agar meninggalkan lokasi.

Situasi itu kemudian semakin memanas ketika sejumlah orang mendatanginya. Amanda menilai penggunaan kembang api dengan suara dentuman keras seharusnya mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar. (H-1)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *