Buntut Kasus Muntaber Warga, Pemkot Tangsel Desak Perombakan Total WTP Serpong Lagoon
ilustrasi pengujian air(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

PEMERINTAH Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) mengambil sikap tegas menyusul merebaknya kasus muntaber yang menimpa ratusan warga di Perumahan Serpong Lagoon. Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, menginstruksikan pengelola Water Treatment Plant (WTP) setempat untuk segera menghentikan sementara operasional fasilitas pengolahan air, menyediakan pasokan air bersih alternatif yang aman, serta merombak total seluruh instalasi pengolahan hingga jaringan pipa distribusinya.

Instruksi tersebut disampaikan Pilar di hadapan perwakilan warga dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dalam kunjungan darurat serta rapat koordinasi di kawasan Perumahan Serpong Lagoon, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kamis (15/10).

“Pemkot Tangsel melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang akan mengevaluasi instalasi untuk memastikan apakah permasalahan berasal dari proses pengolahan atau jaringan distribusi air. Pengelola juga diminta melakukan pembersihan dan desinfeksi instalasi, mengoptimalkan klorinasi, serta memeriksa jaringan pipa untuk mengidentifikasi kemungkinan kebocoran,” kata Pilar dalam keterangan yang diterima, Jumat (16/10).

Kasus ini bermunculan setelah warga Perumahan Serpong Lagoon mengeluhkan gangguan kesehatan pencernaan, khususnya muntaber, yang belakangan diindikasikan berkaitan erat dengan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada jaringan air bersih perumahan.

Kondisi danau yang diduga menjadi sumber air yang dipasok ke rumah warga di Serpong Lagoon. (Dok Istimewa)

Merespons hal tersebut, Dinas Kesehatan Kota Tangsel bersama Puskesmas Keranggan melakukan penyelidikan epidemiologi intensif dan mengambil tiga sampel air untuk diuji di laboratorium kesehatan daerah. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan tingkat kontaminasi yang sangat mengkhawatirkan. 

Sampel air pada reservoir WTP mencatatkan angka kontaminasi sebesar 14, sedangkan sampel air di rumah warga yang menggunakan filter mencatatkan angka 660, dan sampel air rumah warga tanpa filter menunjukkan angka tertinggi mencapai 956.

Temuan ini membuktikan bahwa seluruh sampel positif terpapar bakteri E. coli jauh di atas ambang batas normal, sehingga penggunaan air WTP harus dihentikan sementara hingga hasil pemeriksaan memastikan kualitasnya aman.

Menanggapi krisis kesehatan ini, Pilar Saga Ichsan menegaskan bahwa penanganan tidak boleh dilakukan secara setengah-setengah. “Dengan adanya permasalahan ini, pihak pengelola harus ikut bertanggung jawab memberikan distribusi air bersih, entah dari mana. Yang penting standar mutu bakunya terpenuhi,” ujar Pilar.

Terkait perbaikan menyeluruh instalasi dan jaringan pipa, Pilar menyebut bahwa  WTP ini bisa dibenahi secara total. “Jadi bukan pembenahan sedikit-sedikit, tetapi secara menyeluruh, mulai dari pengolahan air sampai pendistribusian dan jalur pemipaannya. Itu harus diperbaiki sesuai standar,” tegasnya.

Pemkot Tangsel pun berharap penyelesaiannya tidak bisa jangka pendek atau jangka menengah. “Saya harap ini jangka panjang, ya, jangka panjang, ya. Sekali lagi saya di sini karena care (peduli) terhadap semua. Saya care terhadap yang pasti nomor satu kepada warga kami. Maka dari itu duduk bersama dengan Dinas Cipta Karya untuk mengecek apakah ada saluran yang bocor atau tidak,” kata dia.

Selain poin-poin tersebut, Pemkot Tangsel melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan juga akan mengawasi ketat kualitas air alternatif yang didistribusikan. Pengelola pun diminta agar segera merampungkan persyaratan administrasi serta bersikap terbuka kepada pemerintah daerah mengenai kendala operasional yang dihadapi demi keselamatan warga perumahan.

(P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *