Dies Natalis ke-69, Undip Perkuat Riset dan Inovasi untuk Masyarakat
Peringatan Dies Natalis ke-69 Undip.(Dok.Istimewa)

 

UNIVERSITAS Diponegoro (Undip) memperkuat komitmen mengembangkan pendidikan, riset, dan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dalam peringatan Dies Natalis ke-69 di Gedung Serba Guna Muladi Dome, Kampus Undip Tembalang, Kamis (15/10).

Mengusung tema Undip Bersinergi, Berinovasi, Berdampak untuk Negeri, peringatan tersebut menjadi momentum bagi Undip untuk memperluas kolaborasi dan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan nasional.

Ketua Senat Akademik Undip Tri Winarni Agustini mengatakan, Undip memiliki peran strategis dalam pembangunan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Hingga kini, Undip telah menghasilkan lebih dari 300 ribu alumni dan mendidik lebih dari 67 ribu mahasiswa.

“Undip telah menghasilkan berbagai penelitian, paten, kekayaan intelektual, publikasi, serta produk hilirisasi yang telah diterapkan di masyarakat,” ujarnya.

Menurut dia, berbagai capaian tersebut memperkuat kontribusi Undip dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Pengakuan internasional di bidang keberlanjutan, termasuk posisi Undip dalam 20 besar dunia versi UI GreenMetric, juga menjadi bagian dari capaian universitas.

Rektor Undip Suharnomo mengatakan, perguruan tinggi harus mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi atas persoalan masyarakat. Reputasi akademik, publikasi ilmiah, dan pemeringkatan internasional tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan universitas.

Di tengah tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian global, Undip berupaya memperkuat riset terapan dan memperluas pemanfaatan hasil penelitian.

Komitmen itu diwujudkan melalui pengembangan teknologi desalinasi untuk mengolah air laut menjadi air siap minum. Teknologi tersebut telah dimanfaatkan di 11 lokasi, termasuk kawasan Pantai Utara Jawa, Maluku, dan Nusakambangan, serta untuk membantu masyarakat terdampak bencana.

Undip juga mendampingi usaha pengolahan ikan teri yang berhasil membuka akses ekspor ke Jepang, Singapura, dan Sri Lanka. Program tersebut melibatkan sekitar 1.200 nelayan dan membuka lapangan kerja bagi 200 perempuan.

Inovasi lainnya meliputi pengembangan alat pengering rumput laut berbasis energi surya dan biomassa, teknologi pangan untuk mencegah stunting, serta pengolahan limbah menjadi kompos dan budidaya maggot. Undip turut mengembangkan teknologi pirolisis untuk mendukung pengelolaan limbah.

Kampus sebagai Pusat Solusi

Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali dalam orasi ilmiahnya menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Menurut dia, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan berkualitas. Kampus juga harus menjadi penggerak produktivitas, sumber inovasi, penghubung kerja sama global, dan bagian dari penyelesaian persoalan sosial, ekonomi, serta lingkungan.

“Perguruan tinggi perlu bertransformasi dari center of knowledge menjadi center of solution, sehingga pengetahuan yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan pembangunan secara konkret,” ujarnya.

Pungkas menilai Undip memiliki peluang mengembangkan living laboratory atau laboratorium kehidupan nyata untuk menghasilkan inovasi sesuai kebutuhan wilayah. Potensi riset di bidang kebumian, lingkungan, peternakan, kelautan, dan ekonomi dapat dimanfaatkan untuk mengatasi abrasi, banjir rob di Pantura, serta memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir.

Ia mencontohkan pengembangan Desa Bedono, Kabupaten Demak, melalui rehabilitasi mangrove, kolaborasi penelitian internasional, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menurut Pungkas, pengembangan inovasi berbasis wilayah perlu melibatkan akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dampak program juga harus diukur agar manfaatnya berkelanjutan dan dapat diterapkan di daerah lain.

Sementara itu, akademisi Universiti Putra Malaysia Taufiq Yap Yun Hin dalam orasi ilmiah bertajuk From Research Excellence to Global Impact: Building a World-Class University mengatakan, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah publikasi, pendanaan penelitian, dan reputasi akademik.

“Pertanyaan yang lebih mendasar ialah sejauh mana ilmu pengetahuan dan hasil penelitian mampu membawa perubahan bagi kehidupan manusia,” ujarnya.

Ia menilai dampak sosial harus menjadi bagian penting dalam mengukur kualitas perguruan tinggi. Pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas pembelajaran, jejaring penelitian internasional, dan ekosistem inovasi perlu berjalan beriringan.

Taufiq juga mengapresiasi capaian akademisi Undip, termasuk tujuh dosen yang masuk daftar 2% ilmuwan terbaik dunia versi Elsevier 2026. Menurut dia, capaian akademik tersebut perlu diikuti pengembangan kolaborasi internasional yang menghasilkan teknologi dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Peringatan Dies Natalis ke-69 Undip juga diisi dengan peluncuran Learning Management System (LMS) DELTA serta pemberian penghargaan kepada dosen, doktor baru, dan tenaga kependidikan berprestasi.

Memasuki usia ke-69, Undip menargetkan penguatan sinergi dan inovasi agar hasil penelitian tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung pembangunan nasional. (E-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *