Bukan Cuma Iklim, Peneliti Ungkap Penyebab Utama Kebakaran Hutan Australia
Kebakaran hutan di Australia(AAP)

KRISIS kebakaran hutan yang melanda kawasan tenggara Australia selama ini kerap diidentikkan dengan dampak perubahan iklim yang kian panas dan kering. Namun, penelitian ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature mengungkapkan fakta sejarah baru. Hutan lebat yang kini mudah terbakar tersebut sebenarnya baru terbentuk akibat dampak dari kolonisasi Inggris.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat adat Suku Gunaikurnai secara rutin mengelola kawasan tersebut sebagai sabana terbuka. Mereka menerapkan teknik pembakaran bertahap berintensitas rendah atau cool fires untuk menjaga keseimbangan alam.

Penelitian ini dipimpin Michael-Shawn Fletcher, seorang profesor dari School of Geography, Earth and Atmospheric Sciences Universitas Melbourne, bekerja sama dengan lembaga masyarakat adat Gunaikurnai Land and Waters Aboriginal Corporation. Tim peneliti menganalisis sampel sedimen lumpur sepanjang satu meter dari dasar Danau Purghagoolah di Taman Nasional Croajingolong, Victoria. Lapisan lumpur tersebut menyimpan rekam jejak vegetasi, jejak api, dan tingkat erosi tanah selama 1.000 tahun terakhir.

Hasil analisis terhadap jejak arang menunjukkan sebelum era kolonisasi Inggris yang dimulai pada 1788, api di sekitar wilayah tersebut selalu terbakar pada suhu yang relatif rendah. Praktik pembakaran budaya skala kecil oleh Suku Gunaikurnai berhasil menjaga lanskap tetap terbuka dan aman.

Namun, ketika penjajahan merambah wilayah tersebut, tradisi pengelolaan lahan tradisional ini terhenti. Rekaman arang mencatat perpindahan dari api bersuhu rendah ke kebakaran hutan bersuhu tinggi. Seiring berhentinya praktik pembakaran budaya, tutupan pohon eukaliptus di sekitar danau melonjak drastis hampir empat kali lipat, dari semula sekitar 9% menjadi 34% dari total luas daratan.

Perubahan vegetasi dari sabana terbuka menjadi hutan lebat ini melipatgandakan akumulasi bahan bakar kayu di atas tanah. Sedimen danau juga merekam peningkatan erosi tanah secara signifikan setelah berhentinya pengelolaan tradisional.

Fletcher menjelaskan fenomena cuaca ekstrem yang memicu kebakaran hebat di Australia sebenarnya bukanlah hal baru. Data iklim menunjukkan bahwa kondisi cuaca berbahaya seperti pada tragedi kebakaran Ash Wednesday tahun 1983 dan Black Saturday tahun 2009 sudah berulang kali terjadi sebelum era kolonisasi. Meskipun demikian, lanskap terbuka yang dirawat melalui pembakaran budaya terbukti mampu melindungi daratan dari bencana kebakaran dahsyat.

“Ketika kolonisasi mengakhiri perawatan tersebut, hutan meluas dan menebal di seluruh wilayah, membebani lanskap dengan bahan bakar. Transformasi itulah yang menyerahkan kendali api kepada iklim,” ujar Fletcher.

Fletcher mengkritik sudut pandang umum yang kerap menyalahkan krisis iklim semata tanpa melihat akar masalah historisnya.

“Sebagian besar diskusi tentang krisis kebakaran hutan di Australia berhenti pada perubahan iklim,” kata Fletcher. “Karya kami menunjukkan apa yang menyiapkannya – ekspansi dan penebalan hutan yang membebani lanskap jauh sebelum iklim mulai bergeser.”

Ia menambahkan bahwa Taman Nasional Croajingolong selama ini disalahartikan sebagai alam liar yang murni tak tersentuh manusia. Padahal, hutan lebat yang ada saat ini merupakan warisan langsung dari kolonisasi yang justru mengancam kelangsungan ekosistemnya.

Tokoh adat Suku Gunaikurnai yang turut menjadi penulis dalam studi ini, Russell Mullett, menekankan pentingnya peran towera atau api dalam bahasa lokal sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari nenek moyangnya di tanah mereka yang disebut Country.

“Tidak memperlakukan country dengan towera, country menjadi sangat berbahaya bagi GunaiKurnai, hewan, dan tumbuhan,” tegas Mullett.

Mullett menilai temuan ini memberikan bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung kembali dilibatkannya pengetahuan tradisional masyarakat adat dalam manajemen pencegahan kebakaran hutan modern.

“Studi seperti ini memberikan bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung inisiatif pengelolaan lahan towera untuk country,” tutur Mullett.

Meskipun rekam jejak danau telah membuktikan perubahan di masa lalu, para peneliti menilai pemulihan pembakaran budaya secara langsung di lapangan tetap diperlukan untuk mengukur seberapa cepat risiko kebakaran dahsyat dapat ditekan di masa depan. (Earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *