Wina Natalia Berbagi Kisah Perjuangan Mental Ibu dengan Anak Autisme
Penyanyi dan penulis buku sekaligus orang tua dari anak dengan autisme, Wina Natalia, dalam acara pembukaan Special Kids Expo (SPEKIX) Neurodiversity Expo 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Sabtu (10/10/2026).(ANTARA/Farika Nur Khotimah)

PENYANYI sekaligus penulis buku, Wina Natalia, membagikan pengalaman emosionalnya sebagai orangtua dari anak dengan autisme. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terberat bagi seorang ibu bukanlah menghadapi respons anak, melainkan menjaga kesehatan mental dan menenangkan diri sendiri saat pertama kali menerima diagnosis tersebut.

Hal itu disampaikan Wina saat ditemui usai pembukaan Special Kids Expo (SPEKIX) Neurodiversity Expo 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, dikutip Selasa (14/10). Wina mengakui bahwa proses berdamai dengan kenyataan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Fase Menyalahkan Diri Sendiri

Putra Wina, Sigra, didiagnosis mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD) pada usia tiga tahun. Selama satu tahun pertama pascadiagnosis, Wina mengaku terjebak dalam fase penyangkalan dan rasa bersalah yang mendalam.

“Ternyata setelah mendapat diagnosis itu, yang paling berat adalah menenangkan diri saya sendiri sebagai seorang ibu. Selama setahun itu kondisinya saya selalu menyalahkan diri sendiri. Saya pikir waktu itu yang paling bersalah adalah saya,” ujar Wina.

Untuk memulihkan kondisi emosionalnya, Wina bahkan memutuskan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Menurutnya, melakukan rekonsiliasi batin jauh lebih rumit karena anak dengan autisme seringkali memiliki dunianya sendiri dan tidak menyadari bahwa dirinya berbeda.

Data Perjalanan Wina Natalia Mendampingi Sigra:








Konteks Keterangan
Usia Diagnosis Sigra 3 Tahun
Durasi Fase Pemulihan Mental Sekitar 1 Tahun
Langkah Pemulihan Konsultasi ke Psikolog
Sistem Pendukung Utama Keluarga inti dan kakak-kakak Sigra

Pentingnya Bangkit demi Masa Emas Anak

Wina menyadari bahwa larut dalam kesedihan berkepanjangan dapat merugikan tumbuh kembang sang buah hati. Jika orang tua terus terpuruk, anak berisiko kehilangan “masa emas” untuk mendapatkan intervensi terapi sedini mungkin.

“Kalau saya terlalu sedih, anak ini akhirnya tidak diapa-apakan dan kita kehilangan momen untuk membuat dia lebih baik. Dari situ saya bangkit,” tuturnya.

Dukungan dari keluarga inti, termasuk penerimaan hangat dari kakak-kakak Sigra, menjadi faktor kunci yang membantunya pulih.

Tepat saat Sigra menginjak usia empat tahun, Wina akhirnya memiliki keberanian untuk membagikan kisah kondisi istimewa anaknya kepada publik. Ia pun berpesan kepada para ibu yang sedang berada di posisi serupa agar tidak menghukum diri sendiri.

“Tidak apa-apa jika merasa bingung, sedih, atau takut. Semua orang tua pasti melewati fase itu karena tidak ada yang langsung siap. Tapi pesan saya, lewati fasenya, cepat bangkit, jangan berlarut-larut, dan jangan pernah merasa malu,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *