PDB Indonesia Bisa Bertambah Hampir Rp3.000 Triliun lewat Elektrifikasi PLTS 100 GWp
Indef memproyeksikan implementasi dari proses elektrifikasi dapat memberikan kontribusi US$160 miliar atau setara Rp2.867,68 triliun (asumsi kurs Rp19.923/dolar AS) terhadap PDB Indonesia.(MI/Naufal Zuhdi)

PEMERINTAH menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan total kapasitas 100 gigawatt peak (GWp) hingga 2029. Proyek ini merupakan salah satu target ambisius pemerintah di bidang energi dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. 

Direktur Indef Green Transition Initiative (GTI), Imaduddin Abdullah, menyampaikan bahwa kontribusi proses elektrifikasi ini sangat signifikan untuk menopang target pertumbuhan ekonomi nasional.

Pasalnya, Indef memproyeksikan implementasi dari proses elektrifikasi dapat memberikan kontribusi US$160 miliar atau setara Rp2.867,68 triliun (asumsi kurs Rp19.923/dolar AS) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam kurun 10 tahun (2025–2035).

“Dampak dari least cost electrification ini memberikan dampak kontribusi sekitar US$160 miliar terhadap PDB Indonesia selama 10 tahun ke depan dari 2025 sampai 2035. Ini kalau misalnya kita buat sebenarnya itu kontribusinya 8% – 10% terhadap PDB untuk mendorong target pertumbuhan 8%. Jadi selalu kalau kita bertanya bahwa 8% pertumbuhan ekonomi ke depan gimana cara mencapainya? Ini jawabannya, salah satunya disumbang melalui elektrifikasi,” kata Imaduddin di Jakarta, Selasa (13/10).

Selain memberikan dorongan yang sangat besar terhadap pertumbuhan PDB nasional, ia menilai elektrifikasi juga membawa angin segar utamanya untuk fiskal negara mengurangi ketergantungan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM).

Imaduddin menyoroti kondisi beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN saat yang membengkak dalam beberapa tahun terakhir akibat lonjakan harga minyak global, salah satunya dari konflik di Selat Hormuz. Menurutnya, percepatan elektrifikasi menjadi kunci utama untuk menyehatkan ruang fiskal negara.

“22% kebutuhan demand minyak ini akan berkurang di tahun 2035 kalau kita menggunakan tadi ya skenario dari elektrifikasi,” ungkap dia.

Sementara itu, Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institut for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, memandang langkah peningkatan kapasitas produksi listrik nasional menjadi penting untuk mendorong peralihan ketergantungan Indonesia dengan energi fosil yang kini mengalami kenaikan harga imbas konflik di Timur Tengah.

“Elektrifikasi perlu terjadi, kenapa? Elektrifikasi itu meningkatkan efisiensi, efisiensi meningkat artinya produktivitas naik dan itu membuat segala sesuatu jadi lebih punya nilai lebih besar ya untuk input energi,” kata Deon.

Deon menegaskan, elektrifikasi yang dimaksud tidak hanya terbatas pada peningkatan kapasitas listrik terpasang, tetapi juga kepada meningkatkan konsumsi listrik melalui peralihan sumber energi di berbagai sektor. Di mana pertumbuhan permintaan listrik nasional diproyeksikan melonjak hampir dua kali lipat pada 2035.

“Proyeksi di laporan kami menyebutkan bahwa pertumbuhan permintaan listrik itu bisa sampai hampir dua kalinya di 2035. Dari angka di 2025 itu 440 Terawatt-hour naik menjadi sekitar 855 Terawatt-hour,” bebernya.

Menurut Deon lonjakan permintaan listrik hingga 190 Terawatt-hour berkat proyek elektrifikasi ini bersumber dari berbagai sektor mulai dari ekspor listrik, pusat data (data center), hingga elektrifikasi transportasi, industri, dan rumah tangga.

“Jadi ini adalah memang kebutuhan sebenarnya kalau memang kita mau target permintaan adalah salah satu strateginya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu adalah industrialisasi, elektrifikasi, dan sebagainya, ya harus didukung dengan ketersediaan pemenuhan permintaan listrik yang cukup tinggi juga,” pungkas Deon. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *