
ORANGUTAN betina bernama Marconi kembali terpantau bersama anak keduanya di kawasan Cagar Alam Jantho, Aceh. Temuan tersebut menjadi indikator keberhasilan upaya rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan karena satwa itu mampu bertahan hidup dan berkembang biak di habitat alaminya.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Tim Post Release Monitoring (PRM) Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho mengamati Marconi bersama anaknya pada 2 Oktober 2026. Keduanya terlihat berada di atas pohon dan bergerak mendekati area kandang adaptasi.
Anak orangutan tersebut diperkirakan berusia 2–3 tahun dan berjenis kelamin jantan. Kondisi fisiknya tampak sehat. Tim juga mengamati anak Marconi mulai aktif bergerak dan mengembangkan keterampilannya di atas pohon, meski tetap berada di dekat induknya.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan, keberhasilan konservasi satwa liar tidak hanya diukur dari keberhasilan pelepasliaran. Keberhasilan juga ditandai kemampuan satwa untuk bertahan hidup dan berkembang biak di habitat alami.
“Keberhasilan satwa liar tidak hanya diukur dari keberhasilan pelepasliaran, tetapi juga kemampuan memastikan satwa dapat bertahan hidup, berkembang biak, dan melanjutkan generasinya di habitat alami,” demikian pernyataan Raja Juli Antoni dalam keterangan resmi, Selasa (13/10).
Sebelumnya, Marconi menjalani rehabilitasi selama tiga tahun di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan SOCP Sibolangit, Sumatera Utara, sejak 2009. Ia kemudian dilepasliarkan di Jantho pada 2011 dan menjadi salah satu orangutan pertama yang dilepasliarkan sejak program reintroduksi di kawasan tersebut dimulai.
Pada 2017, Marconi terpantau melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Masen. Kini, lebih dari satu dekade setelah kembali ke alam, Marconi kembali terpantau bersama anak keduanya.
Kemenhut menekankan pelepasliaran bukanlah akhir dari proses konservasi. Pemantauan setelah pelepasliaran diperlukan untuk mengetahui kemampuan orangutan beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak di alam.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Setyawan Pudyatmoko menekankan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi secara konsisten melalui perlindungan habitat, pemantauan satwa liar, serta pengendalian berbagai ancaman terhadap kelestarian ekosistem.
“Menjaga orangutan berarti menjaga rumahnya dan ekosistem di sekitarnya,” ungkap Satyawan.
Perlindungan orangutan dan habitatnya membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan populasi satwa tersebut di alam. (Z-2)
