
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan para orang tua untuk selalu mengutamakan keselamatan dan kesehatan bayi saat menghadapi perbedaan pola asuh dengan kakek dan nenek. Hal ini menjadi krusial terutama jika praktik pengasuhan yang dilakukan tidak sejalan dengan rekomendasi medis terkini.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dokter Piprim Basarah Yanuarso, menyatakan bahwa orangtua perlu memberikan penjelasan secara santun ketika berhadapan dengan praktik pengasuhan turun-temurun yang berpotensi membahayakan kesehatan anak.
“Kita tentu perlu menghormati orangtua dan kakek-nenek, karena pada umumnya mereka memberikan nasihat berdasarkan pengalaman dan rasa sayang kepada cucunya,” ujar Piprim saat dihubungi, Senin (12/10).
Namun, Piprim menekankan bahwa ilmu kedokteran terus berkembang pesat. Praktik yang pada masa lalu dianggap baik, belum tentu terbukti aman berdasarkan pengetahuan medis saat ini. Ia menyarankan agar orangtua mengajak kakek-nenek berdiskusi secara terbuka mengenai cara perawatan bayi, bahkan berkonsultasi bersama ke dokter anak jika terdapat perbedaan pemahaman yang signifikan.
Risiko Bakteri pada Telur Mentah
Salah satu contoh praktik yang disoroti adalah pemberian telur mentah kepada bayi. Meski sering dilakukan dengan niat menambah kekuatan atau mempercepat pertumbuhan, secara medis tindakan ini sangat berisiko.
Piprim menjelaskan bahwa telur mentah berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat memicu infeksi serius pada bayi. Melalui keterangan tertulis IDAI sebelumnya, ia menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan bagi bayi dan anak demi menjaga keamanan pangan.
“Prinsipnya, tradisi yang baik tentu boleh dipertahankan, tetapi apabila suatu praktik berpotensi membahayakan kesehatan anak, maka keselamatan anak harus didahulukan,” tegasnya.
Tanggung Jawab Bersama
Lebih lanjut, IDAI memandang pengasuhan bayi sebagai tanggung jawab kolektif seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu, melibatkan kakek-nenek dalam memperoleh informasi kesehatan yang tepat sangat penting agar tercipta kesamaan pemahaman dengan orangtua.
“Kami di IDAI mengajak seluruh keluarga, termasuk kakek-nenek, untuk bersama-sama merawat anak berdasarkan kasih sayang yang dilandasi ilmu pengetahuan,” tambah Piprim. Ia mengingatkan bahwa rasa sayang kepada cucu harus dibarengi dengan pemahaman mengenai keamanan tindakan, baik dalam pemberian makanan maupun perawatan harian.
Isu perbedaan pola asuh ini kembali mencuat menyusul laporan kasus seorang bayi di Surabaya yang meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Terkait kasus tersebut, IDAI menyatakan bahwa penyebab pasti kematian tetap harus mengacu pada keterangan medis dari pihak berwenang.
Sebagai penutup, IDAI kembali mengimbau setiap keluarga untuk memastikan seluruh praktik perawatan dan pemberian nutrisi kepada bayi selalu disesuaikan dengan usia anak serta rekomendasi dari tenaga kesehatan profesional. (Ant/H-3)
