Musim Hujan Mundur, 7 Kabupaten di Jawa Tengah Berstatus Awas Kekeringan
Ilustrasi(MI/Lilik Darmawan)

BMKG menetapkan tujuh kabupaten di Jawa Tengah berstatus awas kekeringan meteorologis pada Dasarian II Oktober 2026 atau periode 11–20 Oktober. Peringatan ini dikeluarkan di tengah masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengatakan, peralihan musim berlangsung secara bertahap sehingga potensi kekeringan masih perlu diwaspadai, meskipun sejumlah wilayah mulai berpeluang mengalami hujan.

Berdasarkan peta peringatan dini BMKG periode 11–20 Oktober 2026, tujuh kabupaten berstatus awas meliputi Brebes, Tegal, Pemalang, Jepara, Pati, Rembang, dan Wonogiri.

“Status awas merupakan tingkat peringatan tertinggi dalam pemetaan dini kekeringan meteorologis,” kata Goeroeh Senin (12/10).

Selain itu, sejumlah daerah di Jawa Tengah masuk kategori siaga, yakni Kota Tegal, Kota Magelang, Kota Salatiga, Kota Surakarta, serta Kabupaten Purworejo, Magelang, Semarang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Demak, dan Kudus.

Adapun wilayah yang berstatus waspada meliputi Kota Semarang, Kabupaten Cilacap, Kebumen, Temanggung, dan Kendal. Sementara itu, sejumlah daerah lainnya tidak masuk dalam kategori peringatan dini kekeringan meteorologis karena diprakirakan mulai memasuki masa transisi menuju musim hujan.

BMKG sebelumnya memprakirakan musim hujan 2026/2027 di Jawa Tengah mulai berlangsung secara bertahap, terutama pada November hingga Desember 2026. Perbedaan kondisi iklim setiap wilayah menyebabkan awal musim hujan tidak terjadi secara bersamaan.

Goeroeh mengatakan, sebagian wilayah Jawa Tengah diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada Dasarian I November atau awal November 2026.

Wilayah tersebut mencakup sebagian besar Kabupaten Wonosobo, bagian timur Banjarnegara, serta sebagian kecil Temanggung, Kebumen, Banyumas, Brebes, Pemalang, Purbalingga, dan Tegal.

Sementara itu, sebagian wilayah Jepara, Pati, dan Rembang, serta sebagian kecil Demak, diprakirakan baru memasuki musim hujan pada Dasarian II Desember atau pertengahan Desember 2026.

BMKG juga memperkirakan awal musim hujan di seluruh zona musim di Jawa Tengah mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal berdasarkan periode klimatologis 1991–2020.

Menurut Goeroeh, masyarakat tidak boleh menganggap hujan yang turun sesekali sebagai tanda bahwa musim hujan telah dimulai. Kondisi tersebut masih dapat terjadi selama masa peralihan musim.

“Masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan tetap mengantisipasi dampak kekeringan, terutama terhadap ketersediaan air bersih dan kebutuhan air sektor pertanian, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa transisi,” ujarnya. (LD/E-4)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *