
KEDUKAAN pada mamalia laut kerap diidentikkan dengan aksi paus orca. Pada 2018, seekor orca bernama Tahlequah menarik perhatian dunia saat membawa jasad bayinya yang mati selama 17 hari menempuh jarak lebih dari 1.500 kilometer.
Perilaku duka pada paus bergigi (toothed whales) memang telah banyak terdokumentasi dalam literatur ilmiah. Sebaliknya, catatan serupa pada paus baleen (baleen whales) sangat langka, karena bayi paus baleen memiliki lapisan lemak yang tipis sehingga tubuhnya langsung tenggelam ke dasar laut setelah mati.
Namun, pada Juli 2025 di lepas pantai timur Australia, para peneliti berhasil mengabadikan interaksi langka antara seekor induk paus bungkuk (humpback whale) dan bayinya yang lahir dalam keadaan mati. Peristiwa ini menjadi catatan terperinci pertama mengenai perilaku pascamati pada spesies paus bungkuk.
Detik-Detik Kelahiran di Dasar Laut
Peristiwa tersebut terjadi di lepas pantai Palm Beach, Gold Coast. Sebuah induk paus bungkuk melahirkan bayinya di kedalaman laut sekitar 1 kilometer dari bibir pantai. Rekaman video memperlihatkan jasad bayi paus berada di dasar laut, sementara sang induk terus menyelam menghampirinya.
Induk paus tersebut bertahan di samping jasad bayinya, menyentuh tubuh sang anak menggunakan kepala serta sirip dada (pectoral fin), dan berdiam diri berhadapan mata ke mata.
Kapten kapal penyelamat dari Sea World Foundation, Andrew Mulville, yang merekam kejadian tersebut dari perahu pribadi, membagikan pengamatannya saat pertama kali melihat kejadian tersebut.
“Pada pandangan pertama, saya pikir itu hanya dua ekor paus yang sedang beristirahat di permukaan, tetapi perilaku mereka tidak biasa,” kata Mulville. “Itu jelas bukan apa yang saya harapkan untuk dilihat di laut hari itu.”
Kamera merekam jasad bayi paus yang terbaring kaku di dasar laut dengan panjang kurang dari 4 meter tanpa ada pergerakan atau napas. Sebagai pembanding, bayi paus bungkuk yang lahir normal biasanya memiliki panjang 4 hingga 4,5 meter.
Berbeda dari Perilaku Lumba-Lumba
Perilaku induk paus bungkuk ini tergolong sangat unik. Pada kasus yang melibatkan lumba-lumba—yang menyumbang lebih dari 90 persen catatan duka pada mamalia laut—induk biasanya akan mendorong dan menyeimbangkan jasad bayinya di atas moncong atau punggung agar tetap mengapung di permukaan.
Induk paus bungkuk ini sama sekali tidak mencoba mengangkat jasad anaknya ke permukaan. Sebaliknya, ia berulang kali menyelam ke dasar laut dan berdiam diri di samping bangkai anaknya selama satu menit atau lebih.
Jan-Olaf Meynecke dari Whales and Climate Research Program di Griffith University memberikan analisis ilmiahnya terkait fenomena tersebut.
“(Induk paus) menunjukkan perilaku pascamati yang berkepanjangan dan perhatian terhadap anaknya yang telah meninggal di bawah permukaan,” ujar Meynecke.
Meynecke dan rekannya menduga induk tersebut mungkin telah menyadari bahwa anaknya lahir mati tidak lama setelah proses persalinan. Kemungkinan lain, posisi jasad bayi di dasar laut menyulitkan sang induk untuk mengangkatnya, atau paus baleen memang memiliki respons duka yang berbeda dibanding kelompok lumba-lumba.
Anomali Lokasi dan Rentetan Kematian Bayi Paus
Selama proses tersebut, sang induk didampingi oleh seekor paus bungkuk dewasa lainnya yang terus berada di lokasi. Fenomena kelahiran ini juga terjadi di lokasi yang tidak biasa, yakni sekitar 500 kilometer di sebelah selatan kawasan pembiakan normal populasi ini di Great Barrier Reef, serta dalam kondisi air laut yang lebih dingin dengan suhu 20,5 derajat Celsius.
Bulan Juli 2025 menjadi periode yang sulit bagi populasi paus bungkuk di pesisir tersebut. Di sepanjang kawasan antara K’gari dan Ballina, tercatat ada tujuh bayi paus bungkuk yang ditemukan tewas berdekatan dengan periode waktu tersebut. (Earth/Z-2)
