Rupiah 9 Oktober 2026 Menguat ke Rp17.899 Didorong Optimisme
Rupiah terhadap dolar AS menguat 9 Oktober 2026(Antara Foto)

NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada perdagangan Jumat (9/10). Berdasarkan data pasar, rupiah bergerak naik 26 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.899 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.915 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyatakan bahwa penguatan ini didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri, khususnya terkait Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan September 2026 yang tetap berada di level optimis.

Survei konsumen Bank Indonesia yang dirilis pada Kamis (8/10) mencatat IKK September berada di level 118,1. Meski angka ini mengalami penurunan tipis dibandingkan bulan Agustus yang sebesar 118,5, indeks tersebut masih kokoh di atas ambang batas 100.

“Meskipun sedikit melemah, indeks tersebut masih berada di zona optimistis karena di atas 100. Hal ini menunjukkan keyakinan konsumen masih terjaga, meski perkembangan konsumsi domestik tetap perlu diperhatikan untuk menilai kekuatan permintaan dalam negeri,” ujar Amru.








Indikator Ekonomi Posisi Terbaru Posisi Sebelumnya
Kurs Rupiah (Spot) Rp17.899 Rp17.915
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) 118,1 118,5
Cadangan Devisa (USD Miliar) 146,3 146,5
Kurs JISDOR BI Rp17.884 Rp17.890

Ketahanan Cadangan Devisa

Selain IKK, pasar juga mencermati posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia akhir September 2026 yang tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS. Angka ini turun tipis 200 juta dolar AS dari posisi Agustus sebesar 146,5 miliar dolar AS.

Amru menilai penurunan ini merupakan bagian dari dinamika penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia. Namun, posisi cadev saat ini masih setara dengan 5,3 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional yang sebesar tiga bulan impor.

“Penurunan cadev belum dapat diartikan sebagai pelemahan fundamental ekonomi. Angka tersebut masih memberikan bantalan kuat bagi Indonesia untuk menghadapi tekanan pasar keuangan global,” tambahnya.

Sentimen Global dan Tekanan Dolar AS

Dari sisi eksternal, indeks dolar AS (DXY) sempat terkoreksi ke level 102,11 pada Kamis (8/10). Namun, tren penguatan dolar masih membayangi akibat kekhawatiran inflasi global dan ekspektasi kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve yang bertahan lebih lama.

Ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak juga diwaspadai karena berpotensi meningkatkan volatilitas pasar. Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada arah kebijakan global, arus modal asing, serta kebutuhan valuta asing di pasar domestik. (Ant/H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *