Defisit APBN 1,24 Persen hingga September 2026, Menkeu Sebut On Track
Konferensi Pers APBN Kita Edisi Oktober 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026).(MI/Ihfa Firdausya)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyampaikan bahwa realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) hingga 30 September 2026 dalam kondisi sehat dan on track. Pendapatan negara tercatat Rp2.341,5 triliun, tumbuh 25,5% year-on-year (yoy). Kemudian belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau meningkat 19,0% yoy.

Sementara defisit APBN hingga 30 September 2026 tercatat Rp319,0 triliun atau 1,24% dari produk domestik bruto (PDB). Adapun keseimbangan primer surplus Rp125,5 triliun.

“Ini adalah kondisi yang sehat karena kalau kita lihat, pendapatan negara sampai dengan akhir September, 74,2% dari target APBN. Sampai akhir September itu berarti 3/4 tahun. Jadi kalau pendapatan negara sudah terkumpul 74%, ini on track,” ujar Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kita Edisi Oktober 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (9/10).

Penerimaan pajak telah terkumpul 68,2% atau Rp1.607,6 triliun atau tumbuh 24,1%. Menkeu mengatakan penerimaan pajak bisa terus menguat ke depannya.

“Kalau dilihat tahun lalu, penerimaan pajak per September minus 4,4%. Jadi memang ada faktor tahun lalu ngumpulkannya belum terlalu kuat. Tahun lalu per akhir September itu cuma ngumpulkan Rp1.295, tahun ini sudah terkumpul Rp1.607,” ungkap Suahasil.

“Betul ada manajemen restitusi, tetapi saya telah memberikan instruksi kepada Dirjen Pajak bahwa restitusi sebagai hak dari wajib pajak untuk industri-industri yang memang memerlukan cash flow, industri padat karya, UMKM, itu diberikan secepat mungkin, diproses hak dari para wajib pajak ini agar bisa dibayarkan,” imbuhnya.

Selanjutnya, kata menkeu, progres penerimaan kepabeanan dan cukai juga cukup sehat. “Tahun lalu sebenarnya juga cukup sehat, (per 30 September) terkumpul Rp221,3 triliun, tahun ini terkumpul Rp240,1 triliun. Tahun lalu tumbuh 7,1%, tahun ini tumbuh 8,5%. Ini adalah pertumbuhan yang sehat di kepabeanan dan cukai,” jelasnya.

Sementara capaian penerimaan negara bukan pajak (PNBP), kata Suahasil, juga patut disyukuri dengan capaian Rp492,3 triliun. Angka tersebut, katanya, sudah melebihi target APBN.

“Namun kita akan terus berusaha supaya ada penerimaan PNBP tambahan karena belanja akan meningkat. Kenapa belanja meningkat? Karena harga minyak meningkat sehingga kita harus membayar subsidi lebih besar. Ini menjadi cara kita mengelola APBN yang harus kita lakukan balancing terus-menerus,” papar Suahasil.

Kemudian belanja negara meningkat 19% dengan capaian Rp2.660,5 triliun. Angka itu sekitar 69% dari target APBN.

“3/4 tahun telah direalisasikan 69,2%. Ini sehat, on track. Kita lihat tahun lalu per 30 September baru belanja 61%. Tahun ini per 30 September kita sudah belanja 69%,” kata menkeu.

“Ada percepatan belanja dan ini sehat karena kita memang tidak menginginkan belanja negara itu terlalu terkumpul di bulan Desember. Kalau bisa dia lebih smooth dan ini yang sudah mulai terjadi,” jelasnya.

Kemudian terkait keseimbangan primer yang positif Rp125,5 triliun, kata Suahasil, APBN sendiri didesain dengan keseimbangan primer negatif Rp89,7 triliun.

“Sementara defisit saat ini 1,24% akan menuju ke 2,68% dan akan menuju ke 2,85% dari PDB, seperti yang kita laporkan pada saat laporan semester bulan Juli yang lalu ke Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat,” papar menkeu.

“Ini on track. Bukan APBN saat ini seakan-akan tekor. Ini bukan sekedar tekor, ini on track, karena memang APBN kita desain defisit. Karena kita ingin belanja saat ini supaya manfaat bagi masyarakat itu benar-benar maksimal dari hari ke hari,” pungkasnya. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *