Penggunaan Batu Bara yang Efisien Bantu Dorong Konsumsi Jangka Panjang
Ilustrasi(Dok Antara)

BATU bara berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai salah satu negara penghasil batu bara terbesar, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebesar 97,96 miliar ton dan cadangan sekitar 31,9 miliar ton. Penggunaan batu bara yang efisien dapat mendorong konsumsi jangka panjang pada komoditas yang satu ini. 

Penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit energi nasional bukanlah tanpa alasan. Stok yang melimpah membuat harga batu bara menjadi relatif terjangkau dan hal tersebut mampu menjaga daya beli masyarakat.

Penggunaan batu bara juga mampu menjaga tumbuhnya industri nasional. Beberapa industri, seperti tekstil, semen serta makanan dan minuman, sangat bergantung pada pasokan listrik murah. Jika tarif listrik melonjak karena peralihan secara masif kesumber energi yang lebih mahal, industri akan membebankan biaya tersebut pada harga produk jadi. 

Sebagaimana diketahui, Indonesia berada di peringkat ke-4 dunia sebagai negara pengonsumsi batu bara terbesar dengan total konsumsi mencapai 5,15 exajoule (EJ) berdasarkan data Statistical Review of World Energy.

Menjadikan batu bara sebagai sumber energi nasional dalam jangka panjang membutuhkan beberapa penyesuaian yang perlu dilakukan sedini mungkin. Penggunaannya kini tidak cukuphanya sebagai bahan mentah. Tapi perlu diberikan nilai tambah, seperti melalui hilirisasi, dukungan teknologi bersih dan adanya diversifikasi produk.

“Batu bara masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Tantangannya adalah bagaimana komoditas ini dimanfaatkan secara lebih efisien dan memberikan nilai tambah,” ujar Komisaris PT Andalan Artha Primanusa, Ivan Victor Salim, Kamis (8/10).

 

Hilirisasi dan penambahan nilai dapat dilakukan dengan mengubah bentuk batu bara menjadi cair atau (Coal to Liquid / CTL). Proses ini mengolah batu bara berkalori rendah menjadi bahan bakar minyak (BBM) atau solar sintetis yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi. 

Langkah selanjutnya adalah melalui gasifikasi batu bara, yaitu dengan mengubah batu bara menjadi syngas yang bisa diproses lebih lanjut menjadi Dimetil Eter (DME). DME berfungsi sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG), metanol, amonia untuk pupuk, hingga bahan baku industri petrokimia. 

Sementara itu, dukungan teknologi bersih dapat dilakukan melalui dekarbonisasi dan penggunaan teknologi pembakaran. Keduanya dapat diterapkan dengan CCS/CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage) lewat penggunaan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang bertujuan untuk menekan emisi gas rumah kaca.

Menggunakan teknologi pembakaran yang lebih efisien dan ramah lingkungan pada fasilitas industri dan pembangkit listrik juga merupakan alternatif yang dapat dilakukan.

Sementara itu, langkah lain lewat penguatan regulasi dan kebijakan dalam negeri tidak kalah penting. Penerapan kebijakan DPO (Domestic Market Obligation) dapat membantu memberikan kepastian pasokan harga dan kuota batu bara bagi kebutuhan dalam negeri. Kebijakan ini penting supaya fluktuasi harga pasar global tidak berdampak pada stok dan harga di dalam negeri.

Mengadaptasi masuknya batu bara ke dalam transisi energi secara bertahap turut membantu tercapainya target Net Zero Emission (Nol Bersih Emisi) pada 2060.

Kementerian ESDM pernah mengungkapkan, ketersediaan energi masih akan didominasi oleh sumber daya berbasis fosil, salah satunya adalah batu bara. batu bara belum akan ditinggalkan sepenuhnya karena belum ada sumber energi pengganti yang sama jumlah pasokan dan keandalannya setara dengan batu bara.

“Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar bagaimana memproduksi batu bara, melainkan bagaimana mengolah dan memanfaatkannya dengan lebih efisien serta memberikan nilai tambah bagi kebutuhan dalam negeri,” tambahnya. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *