Grounding Tanpa Alas Kaki belum Terbukti Cegah Virus, Ini Penjelasan Pakar
Ilustrasi(magnific)

TREN beraktivitas tanpa alas kaki atau yang dikenal dengan istilah grounding atau earthing tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, masyarakat diminta tidak menelan mentah-mentah klaim bahwa metode ini dapat meningkatkan kekebalan tubuh atau mencegah infeksi virus.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Widya Eka Nugraha, M.Si.Med., menegaskan bahwa klaim tersebut perlu disikapi secara hati-hati. Menurutnya, setiap klaim kesehatan harus didasarkan pada bukti ilmiah dan prinsip ilmu biomedik yang kuat.

“Grounding memang dapat mengubah potensial listrik tubuh ketika kulit bersentuhan langsung dengan permukaan bumi yang konduktif. Namun, fenomena fisika tersebut tidak serta-merta berarti terjadi peningkatan kekebalan tubuh terhadap virus,” ujar Widya.

Keterbatasan Bukti Ilmiah

Meskipun beberapa penelitian awal menunjukkan adanya hubungan antara grounding dengan perbaikan kondisi tubuh, Widya menekankan bahwa data tersebut belum cukup kuat untuk dijadikan standar medis.

Ia membedakan antara sesuatu yang “masuk akal secara biologis” (biological plausibility) dengan “efektivitas klinis” (clinical effectiveness).








Aspek Analisis Temuan Ilmiah Saat Ini
Indikasi Awal Potensi pengaruh pada stres oksidatif, inflamasi, nyeri, dan kualitas tidur.
Kualitas Penelitian Skala kecil, keterbatasan metodologis, dan belum konsisten direplikasi peneliti independen.
Mekanisme Elektron Belum ada bukti kuat elektron yang berpindah cukup untuk bertindak sebagai antioksidan klinis.
Faktor Perancu Manfaat mungkin berasal dari aktivitas jalan, paparan cahaya alami, relaksasi, atau efek plasebo.

Hingga saat ini, belum ada bukti uji klinis berkualitas tinggi yang menunjukkan bahwa grounding dapat menurunkan risiko tertular virus, menurunkan viral load, memperpendek masa infeksi, hingga mencegah rawat inap atau kematian.

Mekanisme Pertahanan Tubuh yang Kompleks

Dalam menghadapi serangan virus, tubuh manusia mengandalkan mekanisme pertahanan yang sangat kompleks, bukan sekadar pertukaran muatan listrik.

Sistem imun bawaan bekerja mengenali komponen virus dan memicu interferon serta sitokin. Selanjutnya, imunitas adaptif melalui limfosit B (antibodi) dan limfosit T bekerja menghancurkan sel yang terinfeksi.

Oleh karena itu, Widya mengingatkan bahwa pencegahan infeksi yang efektif tetap harus mengandalkan metode medis yang teruji, seperti:

  • Vaksinasi secara rutin.
  • Menjaga kebersihan tangan dan etika batuk.
  • Memastikan ventilasi udara yang baik.
  • Penggunaan masker pada situasi berisiko tinggi.

Peringatan Keamanan

Meski grounding tetap boleh dilakukan sebagai aktivitas rekreasi dan relaksasi, Widya memberikan catatan khusus bagi kelompok tertentu. Aktivitas tanpa alas kaki di alam terbuka memiliki risiko fisik yang harus diwaspadai.

Peringatan Keamanan Grounding:

Bagi penderita diabetes, orang dengan gangguan saraf kaki (neuropati), memiliki luka terbuka, atau gangguan keseimbangan, aktivitas ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Pastikan permukaan tanah aman dari benda tajam, suhu panas yang berlebihan, dan sumber infeksi lainnya.

Sebagai penutup, bagi masyarakat perkotaan, menikmati alam dan berjalan santai memang merupakan bagian dari pola hidup sehat. Namun, hal tersebut sebaiknya dipandang sebagai sarana relaksasi, bukan sebagai pengganti intervensi medis atau terapi utama untuk mencegah dan menyembuhkan infeksi virus. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *