
OTORITAS federal Amerika Serikat berhasil menggagalkan rencana serangan penembakan massal yang menargetkan Mall of America di Bloomington, Minnesota. Seorang remaja berusia 18 tahun, Sheikhdoon Abdullahi Mohamud, ditangkap pada Selasa (6/10) setelah mencoba membeli senjata dari agen rahasia.
Berdasarkan dokumen pengadilan, Mohamud diduga merencanakan serangan yang terinspirasi oleh kelompok ekstremis ISIS. Penyelidikan ini memuncak di tempat parkir, pinggiran Minneapolis, saat Mohamud bertemu dengan agen yang menyamar sebagai anggota kelompok tersebut untuk membeli senjata dan amunisi.
Targetkan Puluhan Korban
Jaksa AS Daniel Rosen menyatakan bahwa kewaspadaan petugas berhasil mendeteksi ancaman sebelum tersangka melaksanakan niatnya. “Mereka mampu menghentikan ancaman sebelum terdakwa membunuh, dalam kata-katanya sendiri, 30 hingga 60 orang,” ujar Rosen dalam konferensi pers pada Rabu (7/10).
Mohamud, yang lahir di Amerika Serikat dari orangtua asal Somalia, dipantau oleh pihak berwenang selama dua tahun. Dalam pesan elektronik dengan informan, ia dilaporkan telah menyatakan sumpah setia kepada ISIS dan mengungkapkan keinginan untuk menjadi martir melalui aksi terorisme di tanah AS.
Kronologi dan Modus Operandi
Penyelidikan mengungkap bahwa pada Juli lalu, Mohamud mengirim pesan melalui aplikasi Signal dan TikTok yang merinci rencananya menyerang Mall of America. Ia terinspirasi oleh insiden pembunuhan massal di Bondi Beach, Australia, pada tahun 2025.
Tersangka memilih tanggal 24 Oktober sebagai waktu pelaksanaan serangan karena bertepatan dengan perayaan seni Hmong di mal tersebut. Ia mengaku telah menabung cukup uang untuk membeli senapan serbu AK-47.
- Lokasi: Tempat parkir di pinggiran Minneapolis.
- Barang Bukti: Satu senapan AK-47, empat magasin, dan 200 butir amunisi.
- Transaksi: Mohamud menyerahkan uang sebesar Rp9,4 juta (US$600) kepada agen rahasia.
Proses Hukum
Seluruh proses pertukaran senjata tersebut terekam dalam audio dan video oleh petugas federal. Mohamud telah dihadirkan di depan hakim pengadilan federal pada Rabu dan diperintahkan untuk tetap ditahan hingga persidangan berikutnya pada 19 Oktober.
Saat ini, remaja tersebut menghadapi dakwaan federal terkait terorisme dan kepemilikan senjata ilegal. Pengacara yang ditunjuk untuk mendampingi Mohamud belum memberikan komentar resmi terkait kasus ini. (The Washington Post/I-2)
