Iran masih Perkasa Takuti AS Tarik Pesawat Pengebom dari Inggris
Pesawat pengebom AS.(The Washington Post)

PENARIKAN mendadak pesawat pengebom B-1 milik Amerika Serikat dari pangkalan udara Inggris mengungkap realitas kontras di medan perang. Meski Washington mengeklaim telah melumpuhkan kekuatan militer Teheran, ancaman serangan non-konvensional Iran terbukti masih mampu membuat militer terkuat di dunia tersebut tetap waspada.

Pekan lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Amerika Serikat menghancurkan angkatan laut, angkatan udara, kepemimpinan, dan seluruh basis pertahanan Iran. Pernyataan ini selaras dengan narasi Presiden Donald Trump yang menyebut Iran sebagai musuh yang telah takluk dan ambisi nuklirnya terbongkar di mata dunia.

Namun, hanya berselang beberapa hari, armada pengebom B-1 AS secara rahasia mulai meninggalkan Royal Air Force (RAF) Fairford, pangkalan dengan keamanan tinggi di perdesaan Inggris. Langkah ini diambil setelah pejabat AS mendeteksi ancaman serangan swarm drone (kawanan drone) yang berpotensi katastropik yang direncanakan oleh Iran.

Evakuasi dari pangkalan yang digunakan sejak invasi D-Day 1944 ini menggarisbawahi kemampuan Iran dalam menjalankan perang asimetris. Meski kalah secara militer konvensional dari AS dan Israel, Teheran berhasil memanfaatkan ancaman serangan tak konvensional untuk menciptakan kekacauan.

“Saya rasa tidak ada yang menyangka, termasuk pihak Iran, bahwa mereka bisa menghadapi Amerika Serikat dan Israel secara seimbang di hari pertama,” ujar Daniel Byman, pakar kontraterorisme dari Georgetown University. “Namun, tujuh setengah bulan setelah perang ini dimulai, Iran masih mampu menimbulkan kerusakan dan itu sangat luar biasa.”

Selain relokasi pesawat pengebom, Iran menggunakan taktik serupa untuk mengganggu pasar energi global melalui serangan drone terhadap kapal kargo minyak di Selat Hormuz. Bahkan, ancaman plot pembunuhan Iran sempat memaksa protokol keamanan luar biasa bagi Presiden Trump, termasuk insiden di Juli saat ia harus diselundupkan keluar dari Air Force One menggunakan truk katering bandara.

Teknologi Drone dan Kerentanan Baru

Relokasi B-1 ke pangkalan di South Dakota dan wilayah AS lain memaksa pesawat-pesawat tersebut menempuh jarak ribuan mil lebih jauh jika serangan udara terhadap Iran dilanjutkan. Norman Roule, mantan pejabat senior CIA, menyebut evakuasi ini sebagai kemenangan simbolis bagi Teheran.

“Iran menunjukkan bagaimana teknologi baru siber dan drone memaksa kita untuk membentuk kembali arsitektur perlindungan kita,” kata Roule. Ia menambahkan bahwa taktik ini memaksa militer mengevaluasi kembali kerentanan pangkalan yang selama ini dianggap aman seperti Fairford.

Catatan Intelijen: Ketakutan akan serangan di tanah Inggris dipicu oleh laporan adantiga truk kargo putih yang mendekati pangkalan Fairford pada 4 Oktober. Meski polisi Inggris tidak menemukan drone atau senjata–hanya jeriken bensin–dan melepaskan para tersangka, AS tetap melanjutkan evakuasi seminggu kemudian berdasarkan aliran intelijen baru.

Strategi Proksi dan Pesan Peringatan

Para ahli menilai Iran kini semakin mengandalkan proksi kriminal untuk melakukan sabotase tingkat rendah di Eropa guna menghindari deteksi badan intelijen seperti MI5. Plot terhadap RAF Fairford mungkin bukan dimaksudkan sebagai serangan skala penuh, melainkan tembakan peringatan.

Ali Vaez dari International Crisis Group menyatakan bahwa Iran mungkin lebih ingin layanan intelijen Barat mengetahui bahwa mereka mampu melakukan serangan tersebut daripada benar-benar melaksanakannya. Hasilnya ialah demonstrasi bahwa Iran mampu memperluas medan pertempuran hingga ke tanah Eropa, menjaga tekanan terhadap Washington di tengah klaim kemenangan perang yang terus didengungkan pemerintah AS. (The Washington Post/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *