Ekspansi Pusat Data AI Mengubah Lanskap Wilayah Amerika Serikat
Pusat data AI.(The Washington Post)

LANSKAP Amerika Serikat tengah mengalami salah satu transformasi terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Hutan, lahan pertanian, hingga gurun kini mulai dibersihkan untuk memberi ruang bagi infrastruktur fisik yang menopang teknologi modern kita.

Lima tahun lalu, suatu kawasan gudang di dekat Memphis masih dikelilingi oleh hutan lebat. Namun, situasi berubah drastis setelah perusahaan kecerdasan buatan (AI) milik Elon Musk, xAI, membeli lokasi tersebut.

Saat ini, tempat itu menjadi rumah bagi pusat data operasional terbesar di negara tersebut, Colossus 2. Menariknya, atap bangunan ini menyandang tulisan Macrohard dan Macroharder, sindiran terbuka dari Musk terhadap Microsoft.

Ledakan Permintaan Komputasi AI

Demi memenuhi permintaan pemrosesan komputer yang tak terpuaskan untuk menjalankan AI, perusahaan teknologi dan pengembang di seluruh negeri membangun pusat data yang semakin besar dan dipenuhi dengan peralatan yang sangat haus daya.

Berdasarkan data dari Cleanview, perusahaan intelijen pasar yang melacak pengembangan pusat data, Amerika Serikat saat ini memiliki hampir 100 pusat data skala besar (hyperscale). Fasilitas ini mengonsumsi setidaknya 100 megawatt listrik pada puncak operasi, jumlah yang cukup untuk mengaliri sekitar 80.000 rumah. Selain itu, terdapat 120 fasilitas serupa yang sedang dibangun dan 460 lain sedang dalam tahap perencanaan.

Transformasi lahan ini sangat nyata. Sekitar 40 persen dari pusat data hyperscale saat ini dibangun di atas lahan yang sebelumnya dikembangkan. Sisanya mengambil alih lahan pertanian, semak belukar, dan hutan.

Pergeseran dari Perkotaan ke Pedesaan

David Adams, profesor rekanan di California State University, Fullerton, yang mempelajari infrastruktur publik, menjelaskan bahwa pusat data yang beroperasi saat ini biasanya berada di area metropolitan dan perkotaan yang relatif kaya. Hal ini karena perusahaan mencari lokasi dengan pasokan listrik yang andal dan koneksi internet cepat.

Namun, pusat data yang dibangun khusus untuk AI membutuhkan listrik jauh lebih besar karena penggunaan cip yang sangat kuat. Kondisi ini mendorong konstruksi ke wilayah perdesaan karena biaya lahan lebih murah tetapi tetap dekat dengan jalur internet serat optik.

Dampak pada Jaringan Listrik: Karena pusat data mulai membebani kapasitas jaringan listrik publik, beberapa fasilitas kini dibangun dengan pembangkit listrik mandiri. Langkah ini diambil sebagian untuk meredam kritik lokal bahwa operasi tersebut meningkatkan biaya listrik bagi konsumen, meski konsekuensinya membuat situs pusat data menjadi jauh lebih luas.

Kasus Colossus 2 dan Proyek Masa Depan

SpaceX milik Musk, yang bergabung dengan xAI tahun ini, membangun pusat data Colossus 2 di area Memphis bersebelahan dengan pembangkit listrik gas yang sudah ada. Perusahaan menyatakan bahwa deretan baterai raksasa digunakan untuk membantu menstabilkan pasokan listrik selama puncak permintaan.

Meski demikian, selama masa konstruksi, Colossus 2 ditenagai oleh turbin gas sementara yang diklaim lebih berpolusi daripada listrik jaringan. Warga yang tinggal di sekitar pusat data lama milik SpaceX, Colossus, melayangkan protes terkait emisi dari generator di lokasi tersebut. Hingga saat ini, pihak SpaceX belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Skala pembangunan ini terus meningkat. Meta saat ini sedang membangun kampus pusat data bernama Hyperion di lahan pedesaan Louisiana. Proyek ini diprediksi akan mengerdilkan Colossus 2 dan bahkan lebih luas dari Central Park di Manhattan.

Namun, dominasi Hyperion mungkin tidak bertahan lama. Jika semua pusat data yang direncanakan saat ini selesai tepat waktu, data Cleanview menunjukkan bahwa pada tahun 2030, kampus Hyperion hanya akan menempati peringkat kelima di AS berdasarkan luas persegi bangunan. (The Washington Post/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *