Gen Z Paradox: Tinggi Literasi Digital, Rendah Literasi Keuangan
Ilustrasi(Dok Istimewa)

GAYA hidup generasi Z yang semakin bergantung pada layanan digital, termasuk pinjaman online (pinjol), menjadi perhatian serius dalam upaya peningkatan literasi keuangan. Fenomena ini memicu kesenjangan besar antara pemahaman teknologi dan pemanfaatan produk asuransi di kalangan anak muda.

Direktur Utama PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), R. Mahelan Prabantarikso, mengungkapkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan besar dalam memahami proteksi finansial. Hal tersebut disampaikannya dalam edukasi bertajuk Financial Survival Kit: Pentingnya Proteksi Bagi Gen Z di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU), Medan, Rabu (7/10).

Paradoks Generasi Z

Mahelan menyebut kondisi saat ini sebagai “Gen Z Paradox”. Meskipun generasi ini sangat fasih menggunakan teknologi digital (digital literate), mereka masih rentan terhadap risiko keuangan yang tidak terkelola karena rendahnya literasi keuangan (financially literate).

Data menunjukkan sebanyak 64,9% pengguna pinjaman online berada dalam kelompok usia 19-34 tahun. Mirisnya, 58% di antaranya menggunakan pinjaman tersebut untuk kebutuhan gaya hidup yang bersifat konsumtif, bukan untuk kegiatan produktif.

“Akses digital membuka peluang besar, tapi juga membawa risiko baru, mulai dari konsumsi impulsif, penipuan digital, sampai keputusan finansial tanpa pendampingan yang memadai,” ujar Mahelan.

Penurunan Literasi Asuransi

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis OJK, LPS, dan BPS pada Agustus 2026, indeks literasi asuransi tercatat sebesar 42,84%, turun dari 45,45% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, tingkat inklusi asuransi baru mencapai 29,55%.

Kondisi ini menciptakan jurang (gap) lebih dari 13 poin persentase antara masyarakat yang memahami produk asuransi dan mereka yang benar-benar menggunakannya. Penurunan ini terjadi di tengah kenaikan indeks literasi keuangan nasional yang mencapai 69,57%.

Empat Tahap Pengelolaan Keuangan ala Askrindo:

  • Earn: Menghasilkan pendapatan.
  • Manage: Mengelola pengeluaran.
  • Protect: Melindungi aset dan diri melalui asuransi.
  • Grow: Mengembangkan kekayaan.

Pentingnya Proteksi Sedini Mungkin

Mahelan menekankan bahwa penghasilan besar bukan jaminan keamanan finansial. Menurutnya, sepertiga orang berpenghasilan tinggi tetap mengalami stres finansial karena kurangnya kesiapan menghadapi risiko.

“Proteksi bukan karena kita takut pada masa depan, tapi karena kita ingin tetap bisa melangkah saat hal tak terduga terjadi. Bermimpilah besar, mulailah dari hal kecil, dan persiapkan sedini mungkin,” tegasnya.

Kegiatan edukasi di USU ini merupakan bagian dari strategi Askrindo, anggota holding Indonesia Financial Group (IFG) dan bagian dari Danantara, untuk menjangkau calon pelaku ekonomi di luar Pulau Jawa sepanjang tahun 2026. Pihak FEB USU menyambut baik inisiatif ini guna memberikan paparan praktis industri asuransi kepada mahasiswa yang selama ini lebih banyak menerima teori di ruang kuliah. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *