
OPENAI secara resmi memperkenalkan ChatGPT untuk Remaja, sebuah inisiatif yang dirancang khusus untuk memberikan perlindungan otomatis bagi pengguna berusia di bawah 18 tahun. Langkah ini diambil untuk memastikan generasi muda dapat mengeksplorasi potensi kecerdasan buatan (AI) dalam lingkungan yang lebih aman dan terkendali.
Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, menjelaskan bahwa ChatGPT untuk Remaja mengintegrasikan sistem perlindungan sesuai usia serta berbagai fitur keamanan dan pembelajaran tambahan.
“AI dapat membuka berbagai peluang bagi generasi muda untuk belajar dan mengeksplorasi hal baru. Di saat yang sama, orang tua tentu ingin tetap merasa yakin bahwa AI digunakan dengan perlindungan dan pendampingan yang tepat,” ujar Sandy di Jakarta, dikutip Rabu (7/10/2026).
Fitur Keamanan dan Pengawasan Orang Tua
Platform ini dilengkapi dengan sejumlah fitur yang mendukung penggunaan AI secara sehat dan terarah. Beberapa fitur utama yang diperkenalkan meliputi Pengingat Istirahat, Jam Tenang, dan Mode Belajar. Selain itu, terdapat fitur Pengawasan Orangtua yang memungkinkan akun orangtua terhubung dengan akun remaja mereka.
Melalui koneksi akun tersebut, orangtua dapat mengelola pengaturan, menetapkan jam tenang, serta menerima notifikasi keamanan jika terjadi situasi berisiko tinggi. Namun, OpenAI menegaskan komitmen privasi pengguna remaja dengan tidak memberikan akses kepada orangtua untuk melihat isi percakapan pribadi anak mereka di ChatGPT.
Data Penggunaan dan Tantangan Parenting Digital
Kehadiran fitur ini didasari oleh tingginya intensitas interaksi remaja dengan teknologi AI, yang berbanding terbalik dengan tingkat kesiapan orang tua dalam memberikan bimbingan. Berikut adalah data terkait penggunaan AI dan persepsi orang tua berdasarkan laporan OpenAI dan UNICRI:
| Kategori Data | Statistik / Temuan |
|---|---|
| Frekuensi Penggunaan Remaja | 9 dari 10 remaja menggunakan ChatGPT setiap minggu (Data Global OpenAI). |
| Kesiapan Orang Tua | 44% orang tua merasa belum memiliki pengetahuan cukup untuk membimbing anak menggunakan AI (Survei UNICRI 2025). |
Kolaborasi Lokal melalui PandAI
Menjawab tantangan tersebut, OpenAI juga meluncurkan Panduan Praktis AI untuk Keluarga atau “PandAI”. Panduan ini dirancang untuk mendorong dialog terbuka antara anggota keluarga mengenai penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Khusus untuk pasar Indonesia, PandAI dikembangkan bersama platform edukasi parenting lokal, Good Enough Parents. Kolaborasi ini bertujuan agar materi yang disampaikan relevan dengan konteks dan kebutuhan keluarga di tanah air. Salah satu alat bantu yang diperkenalkan adalah “Kartu mAIn”, sebuah kartu percakapan yang memfasilitasi diskusi mengenai cara berpikir kritis, privasi, hingga kapan remaja harus mencari dukungan dari orang lain.
“Keterlibatan orangtua tetap penting untuk menciptakan ruang yang terbuka bagi remaja untuk berdiskusi dan menentukan batasan bersama. Melalui PandAI, kami berharap semakin banyak keluarga yang merasa lebih siap untuk menjalani proses ini bersama,” tutup Sandy. (Ant/ Z-1)
