
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya deteksi dini melalui skrining berkala, terutama setelah remaja putri memasuki fase menstruasi.
Mengapa Remaja Putri Rentan Terhadap Defisiensi Besi?
Berdasarkan penjelasan Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K) dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan remaja putri sangat rentan terhadap kekurangan zat besi:
- Kecepatan Tumbuh (Growth Spurt): Masa remaja adalah periode pertumbuhan fisik yang pesat, yang membutuhkan asupan nutrisi dan zat besi lebih tinggi untuk mendukung pembentukan jaringan tubuh dan volume darah.
- Siklus Menstruasi: Kehilangan darah secara rutin setiap bulan meningkatkan risiko penurunan cadangan zat besi. Jika durasi menstruasi terlalu lama atau volume darah yang keluar terlalu banyak, risiko berkembang menjadi penyakit defisiensi besi akan semakin besar.
Mengenali Gejala Defisiensi Besi
Kekurangan zat besi terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup bahan baku untuk memproduksi hemoglobin—protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan, berikut adalah gejala yang perlu diwaspadai:
- Kelelahan dan tubuh terasa lemah secara terus-menerus.
- Kulit tampak pucat, termasuk pada bagian bawah kelopak mata.
- Denyut jantung terasa cepat atau tidak teratur (palpitasi).
- Kesulitan berkonsentrasi dalam belajar atau beraktivitas.
- Sering mengalami nyeri kepala.
- Rambut rontok dan kuku menjadi rapuh.
Catatan Penting: Defisiensi besi dapat terjadi bahkan sebelum kadar hemoglobin (Hb) turun. Artinya, seorang remaja putri bisa terlihat aktif dan sehat secara fisik, padahal cadangan zat besi di dalam tubuhnya sudah mulai menipis.
Rekomendasi Skrining dan Prosedur Medis
Merujuk pada rekomendasi terbaru dari American Academy of Pediatrics (AAP) yang juga menjadi acuan IDAI, skrining sebaiknya dilakukan pada:
- Seluruh remaja putri segera setelah mengalami menstruasi pertama (menarche).
- Maksimal dilakukan pada usia 14 tahun jika belum dilakukan sebelumnya.
Jenis Pemeriksaan yang Disarankan
Untuk mendapatkan gambaran kesehatan yang akurat, pemeriksaan tidak cukup hanya dengan mengecek kadar hemoglobin. Dokter Murti merekomendasikan dua jenis tes:
| Jenis Pemeriksaan | Tujuan |
|---|---|
| Pemeriksaan Kadar Hb | Mendeteksi apakah sudah terjadi anemia (penurunan sel darah merah). |
| Pemeriksaan Serum Feritin | Menilai status cadangan zat besi yang tersimpan di dalam tubuh. |
Dampak Jangka Panjang
Mengabaikan defisiensi besi pada masa remaja dapat memicu efek domino kesehatan yang merugikan di masa depan, antara lain:
- Gangguan Kognitif dan Fisik: Menghambat perkembangan otak dan kemampuan belajar remaja.
- Penurunan Imunitas: Tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit.
- Risiko Kehamilan: Defisiensi besi yang berlanjut hingga usia dewasa akan berdampak buruk saat hamil, baik bagi ibu maupun janin. Hal ini dapat memengaruhi proses kelahiran dan kesehatan bayi yang dilahirkan.
Pencegahan defisiensi zat besi harus dilakukan secara berkesinambungan, dimulai dari masa remaja putri. Dengan melakukan skrining dini dan memastikan cadangan zat besi tercukupi, kita tidak hanya menjaga kesehatan remaja saat ini, tetapi juga mempersiapkan masa kehamilan yang sehat di masa depan. (Ant/H-4)
