
Volatilitas pasar keuangan yang meningkat mendorong Bank Indonesia (BI) memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar sekaligus mempertahankan aliran modal asing ke Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI) Merywati mengungkapkan bahwa volatilitas pasar keuangan tahun ini meningkat signifikan, yang turut menekan ketahanan aliran modal asing, terutama ke negara-negara emerging market. Data menunjukkan investor asing mencatatkan net sale di pasar saham sebesar Rp10,24 triliun pada September 2026, berbalik dari posisi Agustus 2026 yang mencatatkan net buy sebesar Rp1,19 triliun.
“Ini tahun ini rasanya benar-benar volatilitas yang paling tinggi sepanjang kita di pasar keuangan. Ini berdampak terhadap ketahanan aliran modal negara maju, terutama dari negara-negara emerging market,” ujar Merywati dalam Seminar Nasional bertema “Mengendalikan Risiko, Menguasai Teknologi: Tujuh Tantangan Utama Perbankan Indonesia Menuju 2027” di Jakarta, Selasa (6/10).
Tekanan Global dan Fundamental Domestik
Merywati menjelaskan tekanan pasar keuangan tidak terlepas dari pelemahan prospek pertumbuhan ekonomi global. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 3%, dengan revisi ke bawah di mayoritas negara, kecuali Amerika Serikat. Selain itu, tensi geopolitik memicu kenaikan inflasi global yang memengaruhi arah kebijakan moneter negara maju.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi nasional pada semester I 2026 tercatat sebesar 5,45%, didukung oleh konsumsi pemerintah dan investasi. Inflasi pada Agustus 2026 juga terjaga di level 3,32%, masih dalam koridor sasaran.
Ketahanan eksternal didukung oleh posisi cadangan devisa yang kuat sebesar US$146,5 miliar pada akhir September 2026. Dari sisi perbankan, Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 26,58% dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terkendali di angka 2,11%.
Bauran Kebijakan Bank Indonesia
Untuk menjaga stabilitas, BI melanjutkan bauran kebijakan yang mencakup suku bunga, operasi moneter, dan menjaga kecukupan likuiditas. “Bank Indonesia mempertahankan suku bunga BI Rate di 5,75% dan terus memperkuat operasi pro-market untuk menjaga stabilitas, inflasi, dan kecukupan likuiditas perbankan,” tegas Merywati.
BI juga mendorong agar likuiditas perbankan yang berlebih disalurkan kembali untuk mendukung pembiayaan dan intermediasi, bukan sekadar ditempatkan pada surat berharga.
Respons Industri Perbankan
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Nixon Lambok Pahotan Napitupulu mengingatkan perbankan untuk tetap waspada terhadap perlambatan pertumbuhan kredit. BTN sendiri merespons kondisi ini dengan meningkatkan efisiensi melalui digitalisasi dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kita harus berani berinvestasi di digitalisasi dan talent. Strategi ini kunci agar tetap kompetitif di tengah tantangan ekonomi,” kata Nixon.
Sementara itu, Deputy Direktur Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK Riki Ferdian menyoroti pentingnya transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK). Ia memperingatkan agar bank cermat menghitung biaya dana (cost of fund) agar persaingan penghimpunan dana tidak memicu kenaikan bunga kredit yang memberbankan masyarakat.
“Kalau terjadi perang suku bunga, dampaknya pasti ke suku bunga kredit. Bank harus bisa menghitung cost yang dimiliki agar tetap kompetitif,” pungkas Riki.
