CEO Saudi Aramco Peringatkan Cadangan Minyak Dunia sangat Tipis
Amin Nasser.(CNBC)

KEPALA Eksekutif Saudi Aramco, Amin Nasser, mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi ketahanan energi global. Ia menyatakan bahwa cadangan minyak dunia saat ini berada dalam kondisi yang sangat tipis akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dalam pidato publik pertamanya sejak ketegangan meningkat, Nasser mengungkapkan bahwa dibutuhkan waktu hingga dua tahun untuk membangun kembali persediaan yang terkuras. Menurutnya, konflik yang melibatkan berbagai pihak di kawasan tersebut mengurangi pasokan minyak hingga hampir 3 miliar barel.

Angka tersebut setara dengan sekitar setengah dari volume minyak mentah dan bahan bakar olahan yang biasanya melewati Selat Hormuz dalam periode yang sama. “Sistem ini sudah berada dalam kondisi terbebani,” ujar Nasser dalam konferensi Energy Intelligence Forum di London, Senin (5/10).

Bantalan Ketahanan Mengkhawatirkan

Nasser merinci bahwa lebih dari 1 miliar barel minyak ditarik dari cadangan untuk menutupi kekurangan pasokan. Meskipun pemerintah di berbagai negara melepaskan lebih dari 300 juta barel dari cadangan strategis, Nasser menekankan bahwa beban utama tetap berada pada cadangan perusahaan.

Ia memperkirakan saat ini hanya tersisa kurang dari 6 miliar barel persediaan komersial secara global. Sebagian besar di antaranya secara praktis tidak tersedia untuk digunakan segera. “Dengan sangat sedikit pilihan lain yang dapat diandalkan dunia, bantalan ketahanan pasokan sangat tipis dan mengkhawatirkan,” tambahnya.

Teknologi sebagai Senjata

Selain faktor fisik, Nasser menyoroti ancaman baru berupa penggunaan teknologi modern sebagai senjata. Data terbuka seperti citra satelit dan catatan pengiriman kini semakin sering digunakan untuk menargetkan infrastruktur energi dan kapal tanker.

Dalam beberapa pekan terakhir, serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta infrastruktur Aramco seperti jalur pipa dan kilang oleh kelompok proksi di Irak dan Yaman telah memperburuk situasi. “Alat-alat transparansi seharusnya tidak menjadi amunisi untuk agresi,” tegasnya.

Pemulihan Butuh Waktu Lama

Meski data dari Kpler menunjukkan pengiriman dari negara-negara Teluk mulai meningkat menjadi 15,5 juta barel per hari bulan lalu, pasar tetap berada dalam kondisi ketat. Harga kargo minyak mentah fisik di Laut Utara bahkan melonjak ke level tertinggi sejak April lalu.

Nasser memperingatkan bahwa proses pengisian kembali persediaan (restocking) sambil tetap memenuhi permintaan harian akan memakan waktu lama. “Bahkan setelah konflik berakhir, mengisi kembali persediaan bisa memakan waktu hingga dua tahun,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Saudi Aramco kini tengah mempelajari rute ekspor tambahan dan menjajaki fasilitas penyimpanan di luar negeri untuk melindungi pelanggan dari gangguan pasokan di masa depan. Ia pun menyerukan agar pemerintah di seluruh dunia memberikan perhatian lebih serius pada aspek keamanan dan ketahanan energi nasional. (Financial Times/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *