
PEMERINTAH Jepang melayangkan protes keras kepada Amerika Serikat menyusul penangkapan seorang anggota Korps Marinir AS yang diduga terlibat dalam kematian seorang perempuan di Okinawa. Insiden ini kembali memicu ketegangan terkait keberadaan pangkalan militer AS di prefektur paling selatan Jepang tersebut.
Pejabat AS mengonfirmasi bahwa Devin J. Ballard, 20, seorang kopral muda (lance corporal) dari Pasukan Ekspedisi Marinir Ketiga, saat ini ditahan oleh pihak berwenang di Naha, ibu kota Okinawa. Ballard diduga merampok dan membunuh Anna Yagi, 39, yang ditemukan tak bernyawa di suatu hotel dalam distrik Wakasa, Naha.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan keterangan kepolisian Prefektur Okinawa yang dikutip dari Stars and Stripes, insiden tersebut terjadi di Naminoue Crystal Hotel. Rekaman kamera pengawas (CCTV) menunjukkan Ballard memasuki hotel bersama korban pada Sabtu (3/10) dini hari. Ballard diduga membunuh korban dan mencuri dompet serta barang lain antara pukul 02.10 hingga 04.17 waktu setempat.
Ballard kemudian meninggalkan hotel sendirian. Staf hotel menemukan korban dalam kondisi tidak sadar dan segera menghubungi departemen pemadam kebakaran. Tersangka akhirnya ditangkap pada malam berikutnya saat sedang berjalan di distrik hiburan malam kota Okinawa. Meski bukti CCTV menunjukkan tersangka memiliki ciri fisik berkepala plontos dan tato di kedua lengan, Ballard membantah semua tuduhan tersebut.
Reaksi Keras Pemerintah Jepang
Kementerian Luar Negeri Jepang mengajukan keberatan resmi pada Minggu (4/10). Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menyatakan protes keras dan menyebut insiden ini sebagai tindakan yang sangat brutal dan keji.
“Menteri Motegi mendesak kerja sama penuh dari pihak AS dalam penyelidikan yang sedang berlangsung. Ia juga mendesak AS untuk memperkuat disiplin dan mencegah terulangnya insiden serupa agar tragedi seperti ini tidak pernah terjadi lagi,” bunyi pernyataan resmi kementerian.
Senada dengan Motegi, Perdana Menteri Sanae Takaichi dan Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menyatakan kemarahan mereka. Koizumi menegaskan bahwa insiden tersebut “tidak dapat diterima”.
Dampak Politik dan Keamanan
Kasus ini terjadi di tengah upaya PM Takaichi untuk merelokasi sebagian Marinir dari pangkalan udara Futenma ke fasilitas yang lebih terpencil di Henoko. Insiden kriminal yang melibatkan personel militer AS sering kali memperumit rencana tersebut dan memperkuat gerakan antipangkalan di Okinawa.
Konteks Sejarah: Okinawa menampung sekitar 30.000 personel aktif militer AS. Meskipun pulau ini dikembalikan ke Jepang pada tahun 1972, keberadaan pangkalan militer tetap menjadi isu sensitif. Pada tahun 2017, seorang veteran Marinir AS juga pernah dijatuhi hukuman seumur hidup atas pemerkosaan dan pembunuhan seorang perempuan lokal, Rina Shimabukuro.
Kedutaan Besar AS di Tokyo menyatakan belasungkawa yang tulus kepada keluarga korban dan menegaskan bahwa pihak Amerika Serikat akan bekerja sama sepenuhnya dengan otoritas Jepang dalam proses hukum yang sedang berjalan. Ballard dijadwalkan akan diserahkan ke Kantor Kejaksaan Publik Naha dalam waktu 48 jam setelah penangkapannya. (Newsweek/I-2)
