Dokter Ungkap 6 Kebiasaan Tidur yang Bisa Bantu Jaga Kesehatan Otak
Kebiasaan tidur sehat yang dapat membantu menjaga kesehatan otak.(MI/Naura Putri Afilia.)

GAYA hidup masyarakat urban saat ini semakin identik dengan waktu tidur yang terbatas, paparan gadget berlebihan, serta tekanan pekerjaan yang tinggi. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan otak, mulai dari menurunnya konsentrasi, gangguan daya ingat, mudah lelah, perubahan suasana hati (mood), hingga peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif.

Head of Medical Services & Product Development Seraphim Medical Center, Febby Astari, menjelaskan bahwa salah satu langkah awal menjaga kesehatan otak dapat dimulai dari memperbaiki kebiasaan tidur melalui penerapan sleep hygiene atau pola kebiasaan tidur yang sehat.

“Sebenarnya simpel, kami selalu bilang ke pasien, sleep hygiene-nya sudah benar belum?” ujar Febby, Rabu (30/9).

Melihat meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan otak dan kualitas tidur, Seraphim Medical Center, unit bisnis Bethsaida Healthcare yang berfokus pada layanan wellness dan peningkatan kualitas hidup jangka panjang, menghadirkan Brain Wellness & Sleep Center.

Layanan tersebut dirancang untuk membantu masyarakat menangani berbagai keluhan terkait kesehatan otak dan tidur, seperti insomnia, gangguan tidur lainnya, brain fog, sulit berkonsentrasi, kelelahan akibat stres, gangguan fungsi motorik, hingga upaya menjaga fungsi kognitif sejak usia produktif.

6 Kebiasaan Tidur untuk Mendukung Kesehatan Otak

1. Beri Jeda Makan dan Minum Sebelum Tidur

Febby menyarankan masyarakat memberikan jeda sekitar dua jam sebelum tidur tanpa mengonsumsi makanan maupun minuman.

Menurutnya, kebiasaan tersebut membantu tubuh, terutama sistem pencernaan, memasuki fase istirahat sehingga kualitas tidur menjadi lebih optimal.

2. Bangun Ritual sebelum Tidur

Mempersiapkan tubuh sebelum tidur melalui kebiasaan sederhana dapat membantu otak mengenali bahwa waktu istirahat telah dimulai.

Febby menyebut aktivitas seperti mengganti pakaian dengan piyama atau menggunakan kaus kaki yang nyaman dapat menjadi bagian dari ritual tidur yang membantu membangun pola tidur lebih konsisten.

3. Redupkan Lampu Kamar

Kondisi pencahayaan kamar juga berpengaruh terhadap kesiapan tubuh untuk tidur. Sensor tubuh sangat sensitif terhadap perubahan cahaya di lingkungan sekitar.

Ketika kamar terlalu terang, tubuh dapat tetap berada dalam kondisi aktif. Sebaliknya, suasana gelap atau redup membantu tubuh memasuki kondisi relaksasi.

4. Hindari Gadget Menjelang Tidur

Penggunaan telepon pintar, menonton video, maupun aktivitas digital lainnya sebelum tidur menjadi kebiasaan yang banyak dilakukan masyarakat modern.

Febby menjelaskan bahwa paparan gadget dapat membuat otak kembali aktif sehingga rasa kantuk berkurang.

“Mungkin awalnya ngantuk, tapi lama-lama jadi melek juga. Jadi memang salah satu sleep hygiene yang paling baik adalah sebelum tidur lepas gadget-nya,” jelasnya.

5. Terapkan Pola Makan Seimbang

Dokter Spesialis Neurologi Oktaviana Niken P menjelaskan bahwa pola makan turut berperan dalam menjaga kualitas tidur dan kesehatan otak.

Menurutnya, asupan nutrisi yang seimbang berkaitan dengan aktivitas serta metabolisme sel tubuh yang mendukung fungsi otak.

6. Rutin Berolahraga

Selain pola makan, aktivitas fisik juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan otak dan kualitas tidur.

Oktaviana menyebut olahraga yang baik adalah aktivitas yang dapat dilakukan secara rutin dan konsisten dalam jangka panjang.

Mengacu pada rekomendasi World Health Organization (WHO), aktivitas olahraga dapat dilakukan 4-5 kali dalam seminggu dengan durasi sekitar 30-45 menit.

“Aktivitas keseharian itu tidak termasuk. Jadi bekerja, memasak, atau mengurus kepentingan sehari-hari tidak termasuk aktivitas olahraga,” ujarnya.

Sudah Terapkan Sleep Hygiene, tetapi Gangguan Tidur Masih Muncul?

Oktaviana menjelaskan bahwa gangguan tidur tetap dapat terjadi meskipun seseorang telah menerapkan kebiasaan tidur sehat secara konsisten.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor yang perlu dianalisis lebih lanjut, salah satunya melalui pemeriksaan aktivitas gelombang otak.

“Di Seraphim kita bisa salah satunya analisis gelombang otaknya. Mungkin gelombang yang seharusnya meningkat seperti gelombang alfa yang menunjukkan relaksasi malah menurun, tetapi gelombang beta yang menunjukkan aktivitas tinggi justru naik,” jelasnya.

Untuk mendukung pemeriksaan tersebut, Brain Wellness & Sleep Center Seraphim menghadirkan sejumlah teknologi berbasis bukti ilmiah, salah satunya qEEG Brain Mapping untuk memetakan aktivitas gelombang otak yang berkaitan dengan gangguan tidur, stres, maupun risiko penurunan fungsi kognitif.

Selain itu, layanan ini juga menyediakan Neurofeedback untuk membantu melatih keseimbangan pola gelombang otak, Transcranial Pulse Stimulation (TPS) sebagai pendekatan penunjang fungsi kognitif, serta KINESIQ untuk menilai fungsi motorik secara objektif.

Direktur Sales, Marketing & Business Development Bethsaida Healthcare, Iwan A. Setiawan, mengatakan kehadiran Brain Wellness & Sleep Center menjadi langkah untuk menghadirkan layanan kesehatan otak dan tidur yang lebih terintegrasi.

“Brain Wellness & Sleep Center adalah langkah strategis kami untuk menghadirkan layanan kesehatan otak dan tidur yang terintegrasi dan berstandar internasional,” ujarnya. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *