BPDLH Siapkan Rp37,5 Miliar untuk Perkuat Ekosistem Kopi Kerinci
Ilustrasi(MI/Yose Hendra)

PENGEMBANGAN kopi Kerinci memasuki babak baru. Selain membuka akses pasar internasional, petani kopi di Kerinci mulai mendapat dukungan pembiayaan yang diarahkan untuk memperkuat usaha agroforestri dan pengelolaan lingkungan hidup.

Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) menargetkan penyaluran pembiayaan hingga Rp37,5 miliar sampai 2027 bagi petani binaan Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO). Skema pembiayaan tersebut akan dilakukan secara bertahap, mulai dari 100 petani hingga mencapai 2.500 petani binaan ALKO.

Komitmen itu menjadi salah satu agenda utama Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 yang digelar Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO) bersama petani dan berbagai mitra pada 11–12 September 2026 di Desa Batang Sangir, Kabupaten Kerinci, Jambi.

Festival tersebut mempertemukan petani, kelompok tani, koperasi, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, komunitas, hingga pembeli kopi dari pasar internasional.

Rangkaian kegiatan tidak hanya menjadi perayaan bagi petani kopi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat akses pembiayaan, traceability, perdagangan kopi, hilirisasi, serta kemitraan kehutanan dan agroforestri.

Salah satu agenda penting festival adalah penandatanganan nota kesepahaman antara ALKO dan BPDLH. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi ALKO sebagai mitra agregator dalam membantu petani binaan koperasi memperoleh akses fasilitas dana bergulir.

Direktur Penyaluran Dana BPDLH mengatakan, program pada tahap awal menyasar petani binaan di Kerinci, Jambi, dan Bengkulu.

“Pada tahap pertama, penyaluran dilakukan di Kerinci dan Bengkulu kepada 100 petani binaan dengan nilai hingga Rp1,5 miliar. Tahap kedua untuk 800 petani, dan tahap ketiga untuk 2.500 petani binaan ALKO. Total dana yang disalurkan ditargetkan Rp37,5 miliar hingga tahun 2027,” katanya.

Skema tersebut dirancang untuk memperkuat usaha agroforestri kopi di wilayah Perhutanan Sosial, sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi petani. Program ini juga akan diperkuat dengan pemanfaatan teknologi QThink-X untuk mendukung data, monitoring, dan mitigasi dalam ekosistem petani.

Dukungan pembiayaan tersebut datang ketika kopi Kerinci mulai memperoleh akses lebih luas ke pasar global. Pada festival yang sama, ALKO melepas ekspor kopi ke Kanada dan Malaysia.

Sebanyak 7 ton kopi dengan nilai sekitar US$74.000 dilepas menuju Kanada. Jumlah yang sama juga dikirim ke Malaysia kepada dua buyer dengan nilai sekitar US$74.000.

Total kopi yang dilepas mencapai 14 ton dengan nilai sekitar US$148.000 atau sekitar Rp2,6 miliar.

Pelepasan ekspor dilakukan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jambi Ariansyah yang mewakili Gubernur Jambi Al Haris.

Ariansyah mengatakan ekspor tersebut menunjukkan kopi Kerinci memiliki peluang untuk bersaing di pasar internasional. Namun, menurut dia, akses pasar perlu diikuti pembangunan ekosistem dari hulu hingga hilir.

“Ini bukti kopi Kerinci punya daya saing. Ke depan kita bangun ekosistem yang utuh, mulai budidaya, mutu, pengemasan hingga sertifikasi agar bisa tembus pasar global,” ujar Ariansyah.

Ia mengatakan pengembangan kopi Kerinci tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Penguatan harus mencakup produktivitas, pascapanen, standardisasi mutu, pengolahan, pengemasan, sertifikasi, branding, promosi, hingga akses pasar.

“Pengembangan kopi Kerinci ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Kita perlu membangun ekosistem yang lebih utuh, mulai dari budidaya, peningkatan produktivitas, pascapanen, standardisasi mutu pengolahan, pengemasan, sertifikasi, branding, promosi, hingga perluasan akses pasar di dalam dan luar negeri,” katanya.

Menurut Ariansyah, pemerintah tidak dapat membangun ekosistem tersebut sendirian. Kolaborasi diperlukan antara petani, koperasi, pelaku usaha, industri pengolahan, lembaga pembiayaan, dan mitra pasar.

“Saya berharap semakin terbuka peluang investasi dan kemitraan yang sehat antara pemerintah, petani, koperasi, pelaku usaha, industri pengolahan, lembaga pembiayaan, serta mitra pasar,” ujarnya.

Mempertemukan Petani, Hutan dan Pasar

Selain dengan BPDLH, ALKO juga menandatangani nota kesepahaman dengan KKI WARSI untuk mengembangkan potensi hutan adat, sumber daya lokal, dan kelompok binaan WARSI.

Melalui kerja sama tersebut, ALKO diposisikan untuk dapat berperan sebagai offtaker maupun agregator bagi produk dan potensi ekonomi masyarakat binaan.

Kerja sama itu memperluas pendekatan ALKO yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan kopi, tetapi juga membangun keterhubungan antara petani, masyarakat sekitar hutan, konservasi, agroforestri, dan pasar.

Dalam konteks tersebut, pembiayaan BPDLH dan kemitraan dengan WARSI ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kopi yang menghubungkan produksi dengan keberlanjutan lingkungan dan akses pasar.

Penguatan pasar internasional juga ditandai dengan kontrak pembelian kopi antara ALKO dan Royal Coffee USA.

Kontrak tersebut mencakup dua kontainer kopi Kerinci yang direncanakan dikirim pada Oktober dan November 2026. Nilai kontrak disebut mencapai sekitar Rp6,5 miliar atau USD365.000.

Sebelumnya, PT Alko telah membina sekitar 2.500 petani kopi Kerinci. Melalui kerja sama dengan Royal Coffee USA, akses pasar diharapkan memberikan kepastian penyerapan bagi kopi yang dihasilkan petani.

Teknologi untuk Menelusuri Kopi dari Kebun

Penguatan perdagangan kopi dalam festival juga dibarengi pembahasan mengenai traceability. Salah satu tema seminar yang diangkat adalah “Upaya Membangun Ekosistem Traceability Kopi Agroforestry Kerinci Berbasis Blockchain Web 3.0.”

Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi rantai pasok sekaligus nilai tambah dan daya saing kopi Kerinci di pasar global.

Bagi ekosistem petani, traceability memungkinkan perjalanan kopi ditelusuri dari tingkat kebun hingga produk yang dipasarkan. Dalam rangkaian kerja sama BPDLH, teknologi QThink-X juga direncanakan digunakan untuk mendukung data, monitoring, dan mitigasi.

Ketua Pembina Koperasi Alam Korintji Internasional (ALKO), Suryono, menekankan pentingnya membangun ekosistem yang menghubungkan petani dengan pembiayaan, teknologi, pengolahan, dan pasar.

Menurutnya, penguatan koperasi tidak cukup hanya meningkatkan produksi. Petani juga membutuhkan akses terhadap teknologi, pembiayaan, serta kepastian pasar.

Melalui berbagai kerja sama tersebut, ALKO mendorong agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai kopi yang lebih transparan dan berkelanjutan.

Festival dari Kebun hingga Pasar Dunia

Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, kegiatan diawali tari selamat datang, doa, sambutan para pemangku kepentingan, penandatanganan kerja sama, pelepasan ekspor, serta pertunjukan budaya berupa Tari Petani dan Reog.

Pada sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan Coffee Fun Brew, lomba kopi, seminar, dan business matching.

Hari kedua diisi dengan coffee field trip. Peserta mengunjungi pabrik ALKO, kebun kopi, dan lokasi pengolahan kopi sebelum kembali ke lokasi festival.

Di lokasi utama, kegiatan dilanjutkan dengan seminar internasional, Coffee Fun Brewing, serta diskusi mengenai masa depan kopi Kerinci.

Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan berbagai unsur dalam rantai nilai kopi, mulai dari petani dan kelompok tani, koperasi, pemerintah, akademisi, lembaga pembiayaan, pelaku usaha, komunitas, lembaga lingkungan, hingga buyer dari sejumlah negara.

Ariansyah mengatakan festival tersebut tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial maupun sekadar promosi kopi.

“Kita ingin festival ini tidak hanya menjadi ruang promosi kopi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi lokal, penguatan UMKM, penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan generasi muda, serta pengembangan pariwisata berbasis pertanian dan budaya,” katanya.

Festival tersebut dihadiri Direktur Penyaluran Dana BPDLH, jajaran Pemkab Kerinci, Bapak Kopi Indonesia Prof. Surip Mawardi, Ketua Dewan Kopi Indonesia Syafrudin, Ketua Asosiasi Kopi Kerinci, Ketua Dekopi Jambi, Ketua ASKI Jambi, Kepala Loka POM Bungo, perwakilan Bank Indonesia KWP Bengkulu, Bank BNI Sungai Penuh, Bank BRI Sungai Penuh, perwakilan Root Capital USA, NPMU (PEA) Forest Program IV, Warsi, serta buyer dari Royal Coffee USA, Perancis, Vietnam, dan Malaysia.

Hadir pula pengamat dan penulis kopi asal Spanyol, camat, kepala desa, serta jajaran kepolisian setempat.

Dari Kerinci, pengembangan kopi kini dipertautkan dalam satu ekosistem yang mencakup petani, koperasi, hutan, pembiayaan, teknologi, pengolahan, hingga pasar internasional.

Target penyaluran pembiayaan BPDLH hingga Rp37,5 miliar sampai 2027, kerja sama kehutanan dan agroforestri, kontrak pembelian dengan Royal Coffee USA, serta ekspor ke Kanada dan Malaysia menjadi bagian dari rangkaian upaya tersebut.

Dengan demikian, Festival Pesta Rakyat Petani Kerinci 2026 tidak hanya menjadi ruang perayaan petani kopi, tetapi juga menjadi titik temu berbagai kepentingan dalam membangun rantai nilai kopi Kerinci dari kebun hingga pasar dunia. (YH/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *