Ternyata Bukan Cuma Senang, Ini Alasan Bayi Menggunakan Ekspresi Emosinya
Ilustrasi(Magnific)

EKSPRESI emosi telah hadir jauh sebelum manusia belajar merangkai kata. Bayi tersenyum, anak kecil memalingkan wajah saat malu, dan orang dewasa mendesah ketika merasa stres. Namun, selama ini fokus penelitian emosi lebih banyak meneliti bagaimana orang lain membaca tanda-tanda tersebut, bukan dari sudut pandang individu yang mengeluarkannya.

Sebuah kompilasi riset terbaru yang dipimpin oleh Milica Nikolic dari University of Amsterdam bersama rekan-rekannya, mencoba membedah bagaimana ekspresi emosi diproduksi, berkembang, dan berdampak langsung pada sosok yang mengekspresikannya.

Berdasarkan tinjauan dari 19 artikel ilmiah yang menggabungkan bidang psikologi, neurosains, biologi, dan filsafat, ekspresi emosi terbukti tidak sekadar senyuman atau cemberut. Ekspresi mencakup gerakan wajah, posisi tubuh, arah pandangan, gestur, suara, hingga respons fisik seperti merona dan air mata.

Hubungan Dua Arah Antara Otak dan Tubuh

Penelitian neurosains menunjukkan bahwa proses menghasilkan ekspresi emosi tidak hanya kebalikan dari proses mengenali emosi. Keduanya menggunakan beberapa sistem otak yang sama, namun juga sebagian berbeda. Kerusakan pada area otak tertentu bahkan bisa membuat seseorang kesulitan mengeluarkan nada emosional saat berbicara, meskipun ia masih bisa memahaminya dari orang lain.

Selain itu, ekspresi yang terlihat pada tubuh tidak selalu mencerminkan perasaan batin yang sesungguhnya. Tinjauan terhadap 49 studi neurosains menemukan bahwa pengalaman emosional dan ekspresi fisik dapat berbeda karena dipengaruhi oleh tujuan, aturan sosial, konteks, serta kontrol diri.

Ekspresi emosi bekerja sebagai proses dua arah antara otak dan tubuh: suatu situasi dinilai oleh otak, sinyal tubuh memberikan umpan balik, dan perubahan terjadi pada otot, detak jantung, postur, suara, hingga perilaku.

Bayi Aktif Memulai Interaksi Sosial

Perkembangan ekspresi emosi ini terjadi sangat cepat sejak masa bayi. Salah satu studi dalam kompilasi tersebut menemukan bayi berusia delapan bulan jauh lebih sering memulai momen positif bersama dibandingkan saat mereka berusia empat bulan. Jika bayi berusia empat bulan cenderung baru tersenyum setelah orang lain tersenyum lebih dulu, bayi berusia delapan bulan mulai menggunakannya secara aktif.

Hal ini menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, bayi menjadi lebih aktif dalam membentuk interaksi sosial. Senyuman bukan lagi sekadar respons pasif atas apa yang dirasakan, melainkan alat untuk memulai atau mempertahankan interaksi yang menyenangkan.

Studi lain mengukur respiratory sinus arrhythmia, pola aktivitas jantung yang terikat dengan sistem kendali penenang tubuh. Pola ini meningkat saat terjadi keterlibatan positif bersama antara bayi dan pengasuhnya. Menariknya, peningkatan pola ini tidak terjadi ketika hanya bayi atau hanya sang ibu yang menunjukkan emosi positif secara sepihak. Keterlibatan emosional bersamalah yang memegang peranan penting bagi regulasi fisik bayi.

Emosi Kompleks Muncul Lebih Awal

Riset ini juga mengulas emosi kesadaran diri (self-conscious emotions) seperti rasa malu, bersalah, dan bangga, yang mulai muncul pada tahun-tahun pertama kehidupan. Emosi ini melibatkan kesadaran tentang bagaimana seseorang terlihat di mata orang lain. Anak-anak yang menunjukkan atau merasakan rasa bersalah ditemukan lebih cenderung untuk membantu, berbagi, atau mencoba memperbaiki kesalahan mereka.

Perkembangan emosional anak sangat bergantung pada pertumbuhan biologis dan pengalaman sosial. Respons pengasuh, baik itu menanggapi, menirukan, memperkuat, atau mengabaikan sinyal emosi, akan membentuk cara anak belajar mengekspresikan emosi mereka di kemudian hari. Oleh karena itu, ekspresi tidak bisa dianggap sebagai bukti sederhana dari perasaan yang tersembunyi, melainkan hasil dari pembelajaran dan interaksi sosial yang terus berkembang. (Earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *