
MENTERI Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia, Sugiono, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kepemimpinan Antonio Guterres selaku Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Apresiasi tersebut disampaikan menjelang berakhirnya masa jabatan Guterres pada akhir tahun 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Sugiono saat membacakan pernyataan nasional Indonesia di hadapan Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Sabtu waktu setempat.
“Sekjen Antonio Guterres telah memimpin organisasi melalui masa yang sangat menantang: Perang dan ketegangan geopolitik, pandemi global, darurat kemanusiaan, dan transformasi teknologi yang cepat,” kata Sugiono, sebagaimana dipantau melalui siaran langsung di Jakarta, Minggu.
“Indonesia menyatakan apresiasi atas kepemimpinan dan bakti beliau sepanjang satu dekade terakhir,” tambahnya.
Filosofi Kepemimpinan Indonesia
Dalam pidatonya, Menlu Sugiono menegaskan sistem multilateral yang efektif membutuhkan kepemimpinan yang juga efektif. Ia menggarisbawahi filosofi kepemimpinan tradisional Indonesia yang diwariskan oleh para leluhur, yakni kemampuan untuk memimpin dengan teladan di depan, memupuk kepercayaan saat berada di tengah masyarakat, dan memberdayakan dari belakang.
“Kepemimpinan bukan berarti memberi perintah semata, tetapi juga menjaga kebijaksanaan dan memberi kekuatan bagi semua untuk maju,” ujar Sugiono.
Indonesia menilai, di tengah berbagai gejolak global, Guterres dinilai berhasil menjaga PBB sebagai wahana utama yang krusial untuk dialog serta penyelesaian masalah secara kolektif.
Tantangan Sekjen Baru dan Bursa Calon
Masa jabatan Antonio Guterres sebagai Sekretaris Jenderal PBB dijadwalkan resmi berakhir pada 31 Desember 2026. Pimpinan baru PBB akan mulai mengemban tugas pada 1 Januari 2027.
Sugiono menuturkan bahwa sosok pengganti Guterres kelak memikul tanggung jawab besar untuk menegakkan Piagam PBB, memperkuat institusi, serta memastikan multilateralisme memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dunia.
“Kepemimpinan yang efektif juga harus diiringi dengan komitmen penuh negara-negara anggotanya untuk membuat multilateralisme berjalan baik,” tutur Sugiono.
Saat ini, proses pemilihan Sekjen PBB yang baru tengah bergulir di Dewan Keamanan PBB. Jajak pendapat informal ketiga untuk menentukan para calon telah dilaksanakan pada 18 September. Berdasarkan Pasal 97 Piagam PBB, Sekretaris Jenderal diangkat oleh Majelis Umum atas rekomendasi dari Dewan Keamanan.
Terdapat tujuh kandidat yang tercatat masih bersaing memperebutkan posisi tertinggi di PBB tersebut, yaitu:
- Carolyn Rodrigues-Birkett (diusulkan oleh Guyana)
- Rebeca Grynspan Mayufis (diusulkan oleh Kosta Rika)
- María Fernanda Espinosa Garcés (diusulkan oleh Antigua dan Barbuda)
- Ivonne A-Baki (diusulkan oleh Tonga)
- Rafael Mariano Grossi (diusulkan oleh Argentina)
- Macky Sall (diusulkan oleh Burundi)
- Olara Otunnu (diusulkan oleh Uganda)
(Ant/Z-2)
