Trump Tolak Gencatan Senjata Iran, Perang Mungkin Berlanjut usai Pemilu Sela
Ilustrasi.(Magnific)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah menolak proposal bersyarat dari Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz yang strategis. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada Sabtu (26/9), Trump justru mengisyaratkan kemungkinan untuk melanjutkan kampanye pengeboman terhadap negara tersebut setelah pemilihan paruh waktu (mid-term elections) pada November mendatang.

Laporan yang mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional. Di saat yang sama, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menyatakan telah mencegat proyektil yang ditembakkan oleh pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Proposal Bersyarat Teheran

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat sebelumnya mengajukan tawaran untuk membuka kembali selat vital tersebut dan melanjutkan pembicaraan nuklir dengan AS dalam waktu tujuh hari. Namun, tawaran ini memiliki syarat ketat: pemerintahan Trump harus menerima kondisi yang ditetapkan Teheran.

“Jika kondisi tertentu terpenuhi, Selat Hormuz akan dibuka pada akhir hari ketujuh, dan pembicaraan akan dimulai kembali,” ujar Araghchi kepada wartawan di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.

Juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmaeil Baghaei, merinci bahwa syarat-syarat tersebut mencakup penghentian kondisi yang disebut Teheran sebagai tindakan agresi AS, pengakhiran blokade angkatan laut dan perang ekonomi, serta pelepasan aset-aset Iran yang dibekukan.

Skeptisisme Gedung Putih

Meskipun Trump sempat menyatakan awal bulan ini bahwa ia berharap perang–yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan udara AS dan Israel ke Iran–akan berakhir segera setelah pemilu paruh waktu, secara pribadi ia tetap skeptis. Pejabat yang dikutip WSJ menyebutkan bahwa Trump meragukan Iran akan memenuhi tuntutannya dan melihat dimulai kembali pengeboman sebagai langkah yang mungkin terjadi.

Hingga saat ini, Washington dan Teheran dilaporkan masih melakukan negosiasi melalui mediator, termasuk mengenai tuntutan AS untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Serangan Houthi dan Dampak Pasar Energi

Di tengah kebuntuan diplomatik, konflik proksi terus memanas. Juru bicara koalisi Saudi, Kolonel Turki Al-Maliki, mengonfirmasi melalui platform X bahwa pihaknya mencegat dan menghancurkan dua drone yang diarahkan ke Riyadh serta dua rudal balistik yang menargetkan wilayah Khamis Mushait di barat daya Arab Saudi.

Konflik yang berkepanjangan itu membatasi pengiriman energi dari Timur Tengah secara signifikan, yang memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran inflasi. Meski demikian, harga minyak mentah sempat mengalami penurunan tajam pekan ini saat diskusi antara Teheran dan Washington berlangsung di PBB.

Data Pasar Minyak Terkini:

  • West Texas Intermediate (WTI): Turun 2,3% ke level US$92,41 per barel (naik 61% year-to-date).
  • Brent: Turun 2,1% ke level US$104,32 per barel (naik lebih dari 71% year-to-date).

Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi titik perhatian utama dunia, mengingat perannya sebagai jalur distribusi minyak paling krusial di dunia yang kini terancam oleh dinamika politik antara Washington dan Teheran. (CNBC/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *