
KEMENTERIAN Kehutanan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meski jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional mengalami penurunan signifikan sebanyak 362 titik dalam sehari.
Berdasarkan pemantauan sistem SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga Jumat (25/9) pukul 21.10 WIB, terdeteksi 213 hotspot high confidence. Angka ini menurun drastis dibandingkan pemantauan pada Kamis (24/9) yang mencapai 575 titik.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menegaskan bahwa penurunan jumlah titik panas tersebut bukan menjadi alasan untuk mengendurkan kewaspadaan.
“Penurunan hotspot menunjukkan perkembangan yang positif, namun kewaspadaan dan operasi lapangan tetap harus diperkuat karena kondisi karhutla dapat berubah dengan cepat mengikuti cuaca, kelembapan lahan, angin, serta kondisi bahan bakar di permukaan maupun gambut,” ujar Ristianto, Sabtu (26/9).
Tren Penurunan di Provinsi Prioritas
Penurunan titik panas terpantau di sebagian besar dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Kalimantan Tengah mencatat penurunan paling signifikan, dari 261 titik menjadi 57 titik. Sumatera Selatan turun dari 25 menjadi 17 titik, Kalimantan Barat dari 26 menjadi 14 titik, dan Kalimantan Selatan dari 9 menjadi 6 titik.
Sementara itu, Jambi mencatat satu hotspot setelah sebelumnya nihil, sedangkan Riau tetap mempertahankan status nihil hotspot high confidence.
Ristianto menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, sehingga tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran atau luas area yang terbakar. “Setiap indikasi hotspot tetap harus diverifikasi melalui groundcheck. Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot,” imbuhnya.
Operasi Terpadu dan Penanganan Gambut
Pemerintah saat ini menyiagakan 61 unit armada udara untuk operasi terpadu darat dan udara. Armada tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk operasi water bombing. Sebanyak 55 unit dikonsentrasikan di enam provinsi prioritas, sementara enam unit lainnya dikerahkan ke wilayah terdampak lainnya.
Di lapangan, personel Manggala Agni bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, serta relawan dan masyarakat terus melakukan patroli, pemadaman langsung, hingga pendinginan (mopping up). Perhatian khusus diberikan pada kawasan gambut karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan meski api di atas tanah sudah padam.
“Pembasahan dan pendinginan tetap dilanjutkan sampai area benar-benar dinyatakan aman, terutama di kawasan gambut,” tegas Ristianto.
Kualitas Udara dan Perlindungan Satwa
Meski titik panas berkurang, kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera masih menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat akibat asap yang bertahan di atmosfer. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas luar ruangan atau menggunakan masker jika kondisi udara memburuk.
Selain fokus pada ekosistem, pengendalian karhutla juga diarahkan untuk melindungi satwa liar. Balai KSDA dan mitra konservasi telah menyiagakan tim penyelamatan satwa di wilayah rawan. Masyarakat diminta segera melapor jika menemukan orangutan atau satwa liar lainnya yang terdampak kebakaran dan tidak melakukan evakuasi mandiri demi keamanan.
Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Laporan mengenai titik api maupun satwa terdampak dapat disampaikan melalui Posko Karhutla di nomor 021-5704618 atau WhatsApp +62 8131-00-35000. (H-2)
