
FENOMENA geologi menarik terjadi di kawasan Selat Sunda setelah rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026. Badan Geologi Kementerian ESDM mendeteksi kemunculan dua bentukan daratan baru yang menyerupai pulau kecil di sekitar kaki gunung api aktif tersebut.
Berikut adalah daftar fakta terkait kemunculan dua daratan baru di kawasan Gunung Anak Krakatau:
1. Lokasi di Sektor Barat Laut dan Tenggara
Berdasarkan data Badan Geologi, dua daratan baru tersebut terdeteksi di dua titik berbeda yang mengapit kawah utama. Titik pertama berada di sektor barat laut dengan jarak sekitar 760 meter dari pesisir Anak Krakatau.
Sementara titik kedua terletak di sektor tenggara, berjarak sekitar 495 meter dari pesisir. Jika ditarik garis lurus, posisi kedua daratan ini membentuk pola arah barat laut-tenggara.
2. Terbentuk dari Erupsi Maraton 25 Jam
Kemunculan daratan ini merupakan dampak langsung dari aktivitas erupsi menerus yang terjadi pada 4-6 September 2026. Erupsi yang berlangsung selama kurang lebih 25 jam tersebut memuntahkan material vulkanik dalam jumlah besar.
Akumulasi material seperti lava, batuan vulkanik, abu, dan material piroklastik yang jatuh di area laut dangkal akhirnya menumpuk hingga menyembul ke permukaan laut.
3. Bukan Gunung Api Baru
Para ahli menegaskan bahwa dua bentukan tersebut bukanlah gunung api independen yang baru atau “anak” dari Anak Krakatau. Daratan ini murni merupakan tumpukan material hasil erupsi yang mengendap.
Secara teknis, daratan ini adalah perluasan dari material vulkanik yang muncul di atas permukaan air, bukan merupakan sistem magma baru yang terpisah dari induknya.
4. Penambahan Luas Daratan Mencapai 32,8 Hektare
Selain munculnya dua pulau kecil tersebut, citra satelit Sentinel menunjukkan perubahan signifikan pada morfologi Gunung Anak Krakatau. Tercatat ada penambahan luas tubuh gunung sebesar 32,8 hektare.
Penambahan ini berasal dari endapan material erupsi dan aliran lava yang membeku, yang secara efektif memperluas batas pesisir gunung api tersebut ke arah laut.
Hingga saat ini, Badan Geologi terus memantau stabilitas daratan baru tersebut, mengingat material vulkanik yang baru terbentuk cenderung masih lepas dan rentan terhadap erosi gelombang laut. (Z-10)
