e-SMART Komite Madrasah Perkuat Sinergi Sekolah dan Masyarakat
Program e-SMART Komite Madrasah, yang resmi diluncurkan pada Selasa malam, 22 September 2026.(KSKK Madrasah Kementerian Agama)

MADRASAH tidak tumbuh sendirian. Di balik perkembangan setiap lembaga pendidikan Islam tersebut, terdapat peran aktif dari guru, kepala madrasah, orang tua, hingga masyarakat luas. Guna mengoptimalkan dukungan tersebut agar berjalan semakin terarah, komite madrasah memerlukan peningkatan kapasitas, pendampingan, serta ruang kolaborasi yang memadai.

Semangat inilah yang melatarbelakangi peluncuran Program e-SMART Komite Madrasah yang resmi diperkenalkan ke publik pada Selasa malam (22/9/2026). Program berbasis digital ini dirancang sebagai bagian dari strategi memperkuat peran komite madrasah agar mampu bertransformasi menjadi mitra strategis dalam mendongkrak kualitas pendidikan nasional.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Nyayu Khodijah, menjelaskan bahwa secara regulasi komite madrasah sebenarnya telah memiliki landasan hukum yang kuat. Namun, dalam praktiknya di lapangan, masih ditemukan berbagai kendala, termasuk keterbatasan kapasitas pengurus dalam menjalankan tugas dan fungsi pokoknya.

“Harapan kita persoalan ini bisa diselesaikan dengan hadirnya e-SMART Komite,” ujar Nyayu Khodijah dalam keterangan yang diterima, Jumat (25/9).

Program e-SMART Komite Madrasah tidak sekadar dihadirkan sebagai aplikasi digital semata, melainkan membawa pendekatan komprehensif berupa pembelajaran dan pendampingan untuk membantu pengurus komite mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta integritas tata kelola.

Program ini ditopang oleh dua fitur utama, yakni fitur pembelajaran dan fitur pendampingan. Melalui fitur pembelajaran, pengurus dapat meningkatkan kapasitas manajerial dan organisasi. Selanjutnya, mereka akan diberikan penugasan yang berkaitan langsung dengan fungsi komite, disertai pendampingan intensif dari para pembina.

Proses pembinaan tersebut melibatkan pengawas madrasah di tingkat satuan pendidikan serta jajaran pembina di lingkungan kantor Kementerian Agama, yang seluruhnya terintegrasi melalui sistem digital. Pendekatan ini memastikan penguatan kapasitas komite tidak berhenti pada tataran teori, melainkan berdampak nyata pada peningkatan kualitas tata kelola madrasah.

Selain itu, Direktur KSKK Madrasah menegaskan bahwa penerapan digitalisasi ini tetap memerhatikan kondisi riil di lapangan. Bagi madrasah yang menghadapi keterbatasan akses internet atau kemampuan digital, pembinaan dapat ditempuh melalui skema offline (tatap muka langsung), sementara proses pelaporan dan pemantauannya tetap disinkronkan ke dalam sistem.

Bagi orang tua dan masyarakat, komunikasi yang lebih terbuka dapat menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman dan kepercayaan. Sementara bagi madrasah dan komite, ruang komunikasi tersebut dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih kolaboratif dan harmonis.

Harapan serupa juga datang dari sisi siswa. Kayla Nur Syahwa Syakhila, seorang siswi tunanetra yang telah menghafalkan 30 juz Al-Qur’an, melihat kehadiran e-SMART Komite sebagai peluang untuk memperkuat komunikasi antara orang tua, sekolah, dan siswa.

“Sebagai siswa, saya berharap dengan adanya e-SMART Komite ini komunikasi antara orang tua, sekolah, dan juga kami para siswa semakin terbuka dan juga saling mendukung,” tutur Kayla.

Menurutnya, keberadaan komite tidak hanya penting dari sisi tata kelola, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem yang memberikan dukungan kepada siswa untuk terus berkembang.

Ia berharap e-SMART Komite dapat menjadi jembatan kebaikan bagi kemajuan sekolah sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak program yang bermanfaat bagi pelajar.

“Semoga bisa terus menjadi jembatan kebaikan untuk kemajuan sekolah dan juga bisa lebih banyak program yang lebih bermanfaat untuk memotivasi kami para pelajar agar terus belajar dan juga berprestasi,” ujarnya.

Kisah Kayla menjadi salah satu gambaran bahwa dukungan lingkungan pendidikan dan keluarga dapat memiliki arti penting dalam perjalanan seorang siswa. Di tengah keterbatasan mobilitas dan kebutuhan akan pendampingan, ia terus belajar dan berjuang hingga mampu menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Kayla menuturkan bahwa dirinya mulai berinteraksi dengan Al-Qur’an sejak usia tujuh tahun. Ia terdorong untuk menghafalkan Al-Qur’an karena ingin menjadi orang yang bermanfaat, menyebarkan ajaran Islam melalui Al-Qur’an, membahagiakan orang tua dan keluarganya, serta mendapatkan syafaat dari Al-Qur’an.

Dalam proses tersebut, orang tua dan keluarga menjadi pihak yang terus memberikan dukungan.

“Tanpa lelah mendampingi saya hingga saya menyelesaikan 30 juz,” ungkap Kayla.

Pengalaman tersebut juga membentuk cara pandangnya dalam menjalani pendidikan. Ia mengaku tidak ingin keterbatasan menjadi alasan untuk berhenti belajar. Kepada teman-temannya yang sedang berjuang mengejar cita-cita, Kayla menyampaikan pesan agar mereka terus menggali potensi dan tidak ragu untuk berjuang.

“Jangan pernah ragu untuk berjuang dan jangan pernah berhenti belajar, karena waktu tidak akan pernah berhenti untuk mengajarkan,” pesannya.

Bagi Kayla, keterbatasan bukan akhir dari perjalanan. Ia justru mengajak para pelajar untuk mengubah rasa tidak percaya diri menjadi rasa syukur.

Sementara itu, Pakar Manajemen Pendidikan, Bahrul Hayat, menekankan pentingnya pengembangan aplikasi yang mudah digunakan oleh berbagai pihak. Penggunaan teknologi, menurutnya, perlu disertai perhatian terhadap kemudahan akses agar dapat menjangkau lebih banyak pengguna.

Hal tersebut menjadi semakin relevan ketika program pendidikan digital juga diharapkan dapat memberikan ruang bagi seluruh siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda.

Peluncuran e-SMART Komite Madrasah menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat antara madrasah dan masyarakat. Dengan pembelajaran, pendampingan, komunikasi, dan tata kelola yang terus diperkuat, program ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya komite madrasah yang lebih berdaya serta madrasah yang semakin unggul dan berkembang.

Dari sisi siswa, harapan sederhananya adalah agar semua proses tersebut pada akhirnya kembali kepada mereka: menghadirkan lingkungan pendidikan yang lebih terbuka, saling mendukung, memberikan ruang untuk berkembang, dan mendorong setiap pelajar untuk terus belajar serta berprestasi.

(P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *