Ini Penyebab Suhu Puncak Bogor Lebih Dingin Saat Musim Kemarau
Ilustrasi–Pengunjung bermain mobil listrik di wahana Super Wheels saat berwisata di Enchanting Valley, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (13/5/2025).(ANTARA/Arif Firmansyah)

DI tengah musim kemarau panjang saat ini, suhu udara di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, justru terasa semakin dingin menjelang sore hingga malam hari. Fenomena unik ini menarik perhatian warga maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan dataran tinggi tersebut.

Menurut peneliti sekaligus dosen IPB University di Departemen Geofisika dan Meteorologi, Dr Givo Alsepan, kondisi tersebut sangat mungkin berkaitan erat dengan aktivitas monsun Australia.

Pergerakan massa udara dari benua kangguru tersebut membawa pengaruh signifikan terhadap perubahan suhu di wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

“Udara dingin yang dirasakan di Puncak pada sore menjelang malam saat musim kemarau memang dapat dipengaruhi masuknya massa udara dari Australia. Massa udara tersebut umumnya memiliki karakter relatif kering dan lebih dingin ketika bergerak melewati wilayah Indonesia dan Samudra Hindia,” ujar Givo.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa kondisi ini bukan berarti udara dingin dari Australia secara langsung masuk dan mendinginkan Bogor begitu saja. Terdapat sejumlah proses atmosfer kompleks yang berlangsung secara bersamaan.

Peran Monsun Australia dan Aliran Angin

Monsun Australia memegang peran penting dalam pembentukan kondisi musim kemarau di Indonesia. Pada periode ini, terjadi perbedaan tekanan udara yang cukup mencolok antara dua benua.

“Pada periode tersebut, tekanan udara di Australia relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia. Perbedaan tekanan ini menghasilkan pola aliran angin timuran hingga tenggara yang bergerak dari Australia menuju Indonesia,” urai Sekretaris Program Studi Klimatologi Terapan IPB University ini.

Secara sederhana, alur pergerakan massa udara ini dapat digambarkan sebagai berikut: Australia → Angin Tenggara/Timur → Indonesia → Jawa → Bogor.

Berdasarkan data prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dinamika cuaca dan proyeksi musim kemarau untuk tahun ini adalah sebagai berikut:







Indikator Meteorologi Proyeksi / Kondisi 2026
Durasi Musim Kemarau Berlangsung hingga September 2026 (sebagian besar wilayah Indonesia)
Puncak Musim Kemarau Terjadi pada Agustus 2026
Aktivitas Monsun Australia Tetap aktif hingga akhir tahun dengan intensitas sekitar normal

Fenomena Pendinginan Radiatif

Lebih lanjut, Givo menuturkan bahwa massa udara dari Australia bukanlah satu-satunya faktor tunggal yang membuat suhu di Puncak Bogor terasa menusuk tulang. Kondisi udara lokal yang relatif kering serta langit yang cenderung cerah tanpa awan juga memegang peran krusial, terutama pada sore hingga malam hari.

“Udara yang lebih kering dan minim tutupan awan membuat permukaan bumi menerima lebih banyak radiasi matahari pada siang hari sehingga mengalami pemanasan cukup tinggi. Setelah matahari terbenam, permukaan bumi kemudian melepaskan panas dalam bentuk radiasi gelombang panjang ke atmosfer dan angkasa,” paparnya.

Ketika langit malam relatif cerah, jumlah awan sedikit, dan kandungan uap air di udara rendah, proses pelepasan panas ini berlangsung jauh lebih efektif. Hal ini terjadi karena minimnya faktor penghambat yang biasanya menahan radiasi panas tetap berada di dekat permukaan bumi.

“Akibatnya, permukaan Bumi kehilangan panas dengan cepat. Proses ini disebut pendinginan radiatif,” jelas Dr Givo.

Kombinasi antara langit cerah dan kelembapan udara yang lebih rendah selama musim kemarau ini secara otomatis memperkuat proses pendinginan. Dampaknya, suhu udara di kawasan pegunungan seperti Puncak mengalami penurunan yang jauh lebih cepat dan drastis begitu matahari terbenam.

“Jadi, suhu dingin yang dirasakan warga maupun wisatawan di Puncak saat musim kemarau merupakan hasil interaksi antara pola angin monsun Australia, massa udara yang relatif kering, kondisi langit, serta proses pendinginan radiatif setelah matahari terbenam,” tandasnya. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *