
IRAN telah memaparkan syarat untuk melanjutkan proses diplomatik dengan Amerika Serikat (AS). Demikian disampaikan Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, Rabu (23/9). Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan telah mengirim perwakilan untuk berbicara dengan AS di sela-sela Sidang Umum PBB melalui perantara Qatar.
“Dalam proses interaksi [dengan perwakilan AS] yang berlangsung sekitar dua jam, persyaratan untuk melanjutkan diplomasi yang tidak menyisakan keraguan atau ambiguitas telah disampaikan kepada pihak Amerika,” ujar Baghaei di akun media sosial X, dikutip Kamis (24/9).
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan persyaratan terkait Selat Hormuz kepada utusan khusus AS Steve Witkoff, Selasa (22/9).
Syarat yang dimaksud yakni pencabutan blokade laut, penghentian agresi AS terhadap Iran dan terorisme ekonomi, penghentian perang serta pembukaan blokir aset Iran, dan pengakuan terhadap jalur aman di Selat Hormuz yang telah disepakati dengan Oman. Demikian disampaikan juru bicara Iran tersebut.
Ketegangan antara Iran, AS dan Israel tejadi ketika dua negara sekutu melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari 2026. Iran kemudian melakukan serangan balik.
Lalu, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan pada Juni 2026. Hingga kini konflik Iran, Israel, dan AS tak kunjung selesai dan mencapai kesepakatan damai. Konflik menyebabkan pelayaran yang melintasi Selat Hormuz ditutup. Selat tersebut merupakan jalur vital untuk pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair. Ketegangan geopolitik ini menggerek harga minyak dunia. (Ant/H-4)
