
KEMUNCULAN daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, memicu spekulasi yang dikaitkan dengan kemungkinan munculnya gunung api baru yang disebut sebagai cucu Krakatau. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, daratan tersebut bukan gunung api independen. Daratan baru itu merupakan akumulasi material vulkanik yang berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut,” ujar Daryono, Kamis (24/9).
Menurut dia, proses penumpukan material berlangsung secara bertahap seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau. Endapan material vulkanik kemudian terus bertambah hingga sebagian muncul ke permukaan laut.
Daryono menjelaskan, kemunculan daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi kombinasi faktor geologis dan oseanografis. Salah satunya kondisi dasar laut di kawasan tersebut yang relatif dangkal.
Kondisi itu membuat material hasil erupsi lebih mudah menumpuk dan mencapai permukaan. Selain itu, lontaran piroklastik dan aliran lava saat erupsi juga dominan mengarah ke sektor tersebut.
Dinamika arus dan gelombang laut di Selat Sunda turut memengaruhi proses tersebut. Material hasil erosi yang lebih ringan dapat terbawa arus dan kemudian mengendap di bagian perairan yang lebih tenang.
“Dasar laut di area kaldera purba sisa letusan 1883 tersebut tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi,” jelasnya.
Daryono menyebut, keberadaan daratan baru tersebut masih sangat dinamis. Struktur itu dapat bertambah luas apabila Gunung Anak Krakatau terus memasok material vulkanik melalui aktivitas erupsinya.
Daratan tersebut juga dapat menjadi lebih kuat jika materialnya terlapisi lava yang kemudian membeku menjadi batuan keras. Sebaliknya, apabila aktivitas erupsi berhenti, gelombang dan abrasi laut dapat mengikis material yang belum padat.
“Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat,” kata Daryono.
Ia menegaskan kemunculan daratan tersebut belum dapat disebut sebagai terbentuknya gunung api baru. Setidaknya terdapat tiga indikator geologis yang perlu dipenuhi untuk mengategorikan suatu daratan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri.
Pertama, harus terdapat saluran magma mandiri yang terhubung langsung dengan dapur magma melalui rekahan baru dan terpisah dari kawah induknya.
Kedua, daratan tersebut harus memiliki aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menerima material erupsi dari gunung api di sekitarnya.
Ketiga, harus terdapat struktur geologis dan deformasi tersendiri, seperti aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang berpusat di bawah daratan tersebut.
Karena itu, Daryono mengimbau masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi spekulatif mengenai kemunculan cucu Krakatau yang beredar di media sosial.
Menurut dia, fenomena tersebut merupakan bagian dari proses sedimentasi material vulkanik yang dapat terjadi di kawasan gunung api aktif.
Masyarakat diminta merujuk informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau kepada sumber resmi, termasuk Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan petugas. (H-4)
