
TOKO-toko dan sekolah memilih tutup, sementara sebagian besar pengemudi menolak turun ke jalan pada Rabu waktu setempat. Kota Santa Marta di Kolombia perlahan berjuang kembali normal setelah gelombang kekerasan yang dipicu oleh geng narkoba berujung pada pengerahan pasukan militer.
Kondisi di kota pesisir Karibia yang populer sebagai destinasi wisata tersebut dilaporkan tenang namun diliputi ketegangan. Situasi ini terjadi sehari setelah anggota geng menyerang sejumlah unit usaha sebagai respons atas tewasnya salah satu pemimpin mereka di tangan pasukan keamanan.
Kelompok bersenjata yang menamakan dirinya Pasukan Pertahanan Diri Penakluk Sierra Nevada (ACSN), sebuah organisasi dengan akar dari gerakan paramiliter Kolombia yang kini telah bubar, mereaksi tewasnya pimpinan komando tingkat dua mereka. Operasi penumpasan tersebut dilakukan atas perintah Presiden baru Kolombia dari faksi sayap kanan, Abelardo de la Espriella.
Sejak menjabat bulan lalu, De la Espriella langsung mengibarkan bendera perang terhadap berbagai kelompok perdagangan narkoba di Kolombia.
Pada Selasa lalu, para anggota ACSN melancarkan aksi penembakan ke arah pertokoan dan membakar kendaraan. Langkah ini dilakukan dalam upaya melumpuhkan aktivitas kota, tempat di mana kelompok tersebut selama ini marak melakukan pemerasan terhadap para pelaku usaha.
Pengerahan Pasukan Militer ke Destinasi Wisata
Menanggapi lonjakan kekerasan tersebut, De la Espriella merespons cepat dengan menerjunkan personel militer ke kota yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Tayrona, salah satu objek wisata populer di tepi Laut Karibia.
Pada Selasa malam, ia terbang langsung ke Santa Marta untuk memimpin operasi keamanan. Tampil mengenakan pakaian hijau khaki dengan pistol terselip di pinggangnya, De la Espriella yang dikenal bergaris keras melontarkan janji tegas untuk menindak para anggota kelompok bersenjata tersebut.
“Ke neraka dalam kantong mayat,” tegas De la Espriella berjanji akan mengirim para anggota ACSN.
Wali Kota Santa Marta, Carlos Pinedo, mengonfirmasi dalam wawancaranya dengan Caracol Radio pada Rabu bahwa sedikitnya 500 prajurit militer dan 600 personel kepolisian telah disiagakan untuk menjaga perdamaian.
Pinedo menjelaskan bahwa pihak kota telah bersiap menghadapi potensi kekerasan usai De la Espriella mengumumkan pada Selasa lalu bahwa pasukan keamanan berhasil menewaskan 13 “narkoteroris” ACSN dalam operasi gabungan polisi dan angkatan udara di kawasan pegunungan di atas Santa Marta. Meski sempat terjadi penyerangan, Pinedo menilai gangguan keamanan yang terjadi pada akhirnya tergolong “minimal.”
Ketakutan Warga dan Tindakan Tegas Pemerintah
Meskipun otoritas mengklaim situasi terkendali, sejumlah warga dan pemilik usaha yang dihubungi AFP mengungkapkan rasa takut dan ketidakpastian. Kekhawatiran ini makin diperparah oleh beredarnya rumor bahwa pihak ACSN telah memberlakukan perintah jam malam selama tiga hari. Menurut keterangan pihak berwenang, sebanyak sembilan orang telah ditangkap terkait aksi kekerasan pada hari Selasa tersebut.
De la Espriella, seorang pengacara jutawan yang didukung Amerika Serikat, memenangkan pemilihan presiden putaran kedua pada Juni lalu dengan mengusung agenda penegakan hukum yang tegas.
Sejak berkuasa, ia kerap memerintahkan serangan udara ke kamp-kamp gerilya dan memiliki kebiasaan menggelar konferensi pers di samping jenazah para anggota kelompok bersenjata yang telah dimasukkan ke dalam kantong mayat.
ACSN merupakan satu dari sekian banyak kelompok bersenjata yang sebelumnya sempat terlibat dalam proses perundingan damai yang gagal di era presiden berhaluan kiri pendahulu De la Espriella, Gustavo Petro. De la Espriella kini telah menghentikan seluruh proses negosiasi tersebut dan berjanji akan menghancurkan kelompok-kelompok bersenjata itu melalui jalur militer. (AFP/Z-2)
